Mari Cerdaskan Politik Bangsa!

Tuesday, April 25, 2006

PENGANTAR - MOHON DIBACA DULU

Artikel2 ini dipersembahkan bagi masyarakat yang masih tertinggal pengetahuannya dibidang politik, agama dan kebudayaan. Seringkali karena buta politik, mereka ini hanya bagaikan alat permainan belaka para politisi busuk, birokrat keranjang sampah, jendral TNI/polri berjiwa preman, konglomerat hitam (kebanyakan hidup dipusat Jakarta), dan perusahaan multinasional/negara asing. Perlu diingat bahwa artikel ini hanya cocok bagi manusia yang sudah dewasa, rasional, cerdas, dan bijaksana. Bila anda masih muda, emosional dan meledak-ledak, mohon jangan membaca artikel ini, sebab artikel2nya bisa mengacaukan pikiran anda yang sempit, picik, fanatik, dan munafik! Web blog ini cocok sekali utuk dijadikan tempat pendidikan politik.
Demikian luar biasa karunia Tuhan kepada bangsa Indonesia: kekayaan alam, keindahan alam, kesuburan tanah, kelautan yang luas sekali, dan ke bhinekaan yang luar biasa beragam dan indahnya. Namun, mengapa justru bangsa ini miskin sekali? Mengapa bangsa ini menjadi hina sekali sebagai pengekspor TKI dan TKW kelas unskill labour? Mengapa bangsa ini menjadi pengemis kelas dunia (pengutang)? Dst… Sejarah juga telah mengajarkan kepada manusia bahwa agama justru sering kali berperan negatip terhadap bangsanya, sampai2 Marx mengatakan bahwa agama itu candu atau bahkan racun masyarakat (di saat itu Eropa dibuat mabok agama persis seperti Indonesia saat ini). Agama bagaikan obat, bila minum obat kebanyakan akan menjadi racun bagi tubuh, demikian pula agama: bila suatu bangsa menganggap agama beserta kitab sucinya adalah segala-galanya dan serba bisa untuk mengatasi apa saja (menuhankan agama, sekaligus membatasi Tuhan), maka bangsa itu menjadi mendem agama, nalar/rasio bangsa lalu mengalami kemandegan/stagnasi, kebudayaan bangsa lalu mengalami kemunduran, dan setelah itu krisis kebudayaan akan melanda pada bangsa itu! Bagaimana dengan Indonesia? Sudah pada level mendem agama? Didunia ilmu pengetahuan dan teknologi, semua hal termasuk agama dan keyakinan dapat diperdebatkan. Perlu diingat bahwa Tuhan itu Sang Maha Cerdas, dengan demikian Beliau pasti gemar berdebat dan tidak menyukai manusia yang yes men! Manusia cerdas, religius dan rasional tidak akan pernah: membatasi Tuhan sebatas agamanya, membatasi sesamanya atas dasar agamanya; sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama - sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia. Tuhan juga bukan masa lampau, melainkan lebih mengarah ke masa depan, Ia belum selesai dipelajari. Debat dan diskusi adalah vitamin pokok bagi EQ manusia, asal jangan berdebat dengan tangan dan kaki disertai emosi (kelahi/kerusuhan)! Artikel2 dalam web blog ini akan berusaha menjawab secara kritis, analitis, rasional, dalam, dan tuntas tentang sebagain permasalahan bangsa saat ini seperti tersebut diatas. Saat ini web blog kami ada 3 buah, yakni:
Sementara itu rekan2 dari LSM/NGO lain menyumbangkan pemikiran mereka melalui suatu web blog tersendiri yaitu:
http://agamarasional234.blogsource.com/
yang berisi tentang kritik dan analisis yang sangat tajam sekali terhadap pemeluk agama yang bertingkah laku sangat tidak rasional. Isi web blog ini bagaikan sumbangan dari para filsuf kelas berat dunia! Sebagai penutup, perlu pembaca ketahui bahwa artikel2 yang ada merupakan merupakan sumbangan pemikiran masyarakat cerdik-pandai-bijak dari mana saja (dalam dan luar negeri-Indonesianis), terutama yang berada di kota gudeg, Yogyakarta. Kami yang jaga gawang di Yogya tergabung dalam “Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional”. Kami juga menghimbau anda yang cerdas dan bijaksana agar mau menulis di internet untuk sumbang saran bagi kemajuan bangsa indonesia yang terus menerus mengalami krisis. Budaya tepo sliro/KKN telah menghambat kedalaman dan keluasan pemberitaan disurat kabar, hal ini tidak akan terjadi dengan internet (tak ada sensor, jadi tak perlu takut). Berita di tv, radio dan koran sekedar bagaikan gunung es yang mengapung, tak pernah mengupas secara: tuntas, investigatip, dan dalam analisisnya. Dominasi regim ORBA beserta bablasannya terhadap mass media (s/d saat ini) dan ketakutan akan kekerasan juga berpengaruh. Sebagai contoh: Sydney Jones diusir (karena keterbukaan dan kedalaman analisisnya), Munir dihabisin, Jeffry Winters pernah dikerjain di Yogya (dipukuli preman), dan Tempo dikerjain oleh Tommy Winata. Budaya jurnalism di Indonesia sangat menguntungkan bagi para pelaku kejahatan besar, mereka nyaris tak pernah terungkap (kasus pencurian minyak Pertamina di Kaltim, kasus rekening para jendral polisi, dst.)! Beda dengan di negara maju: good news is bad news; jadi setiap peristiwa yang buruk pasti di investigasi sampai detail; sang pelaku bisa habis riwayat kariernya, atau bahkan bunuh diri saking malu (misal di Jepang: harakiri)! Internet, yang bebas dan sulit dikontrol, adalah senjata yang sangat ampuh bagi pencerdasan bangsa, dan sangat ditakuti oleh oknum pejabat bahkan pemerintah (yang ditaktor, atau semi tertutup, atau semi Mafia). Perlu diketahui, regim Soeharto/militer juga dijatuhkan oleh USA dengan salah satu cara yang jitu yaitu melalui internet (Apakabar net asuhan John McDougall, dimana setelah Soeharto lengser web inipun lalu menghilang, cara yang lain adalah memakai nilai kurs dollar yang luar biasa tidak adil terhadap rupiah yang bertahan hingga kini). Regim bablasan Orde Baru saat ini masih menguasai media informasi dan politik, Indonesia lalu masih bagaikan hanya cocok bagi orang yang jahat saja, orang baik-jujur-bijak-pandai masih tersingkirkan dari peredaran. Sebagai pelampiasan, sebagaian dari mereka lalu melampiaskan hatinuraninya lewat blooger di internet yang bebas merdeka. Kami himbau agar pembaca yang dewasa-bijak-cerdas dapat memberikan feed back atau mengirimkan artikel melalui email kepada kami, atau kami sarankan untuk membuat web blog sendiri demi membantu mengatasi krisis kebudayaan yang tak kunjung berakhir. Kami juga mohon agar artikel2 ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik, sex dan Tuhan. Uluran tangan untuk menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Dengan peningkatan kecerdasan melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Sekian dan terima kasih.
Dari pengasuh web blog,
Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional di Yogyakarta
Email: CerdaskanNegara@yahoo.com

Sunday, April 23, 2006

MENGAPA MANUSIA BALI DAN PAPUA MEMINTA MERDEKA

Abstrak - Etnik Jawa adalah mayoritas dan mendominasi Indonesia. Etnik Jawa yang diwakili oleh politisi/birokrat hitam di Jakarta akan semakin terpuruk citranya, dan akan semakin tidak disukai bahkan dimusuhi oleh suku luar Jawa, misalnya: Aceh, Riau, Dayak, Papua, dan Bali. Suku luar Jawa akan menganggap bahwa manusia Jawa adalah hanya pelaksana dari sistem kolusi/konspirasi destruktip antara: pemilik modal, negara asing, politisi busuk, oknum militer/polri, dan milisi. Apa yang disebut pembangunan luar Jawa oleh petinggi Jakarta, saat ini, ternyata oleh manusia cerdas luar Jawa lebih diartikan sebagai: perampokan kekayaan alam, perusakan alam, pembodohan, sekaligus pemiskinan masyarakat setempat (luar Jawa). Pulau Jawa yang memiliki: ITB, UI, UGM, IPB, dst., sebagai sumber daya manusia (SDM) utama bangsa (karena para alumni PTN tersebut menguasai dan merajai pemerintahan dari menteri, eselon 1, staff, s/d pegawai biasa), ternyata justru menjadi sumber krisis: kecerdasan, kreativitas dan moral bangsa, sehingga bangsa Indonesia sampai dengan saat ini, pertengahan Mei 2006, masih saja mengalami krisis multidimensi.

I. Reformasi Palsu

Kami, para manusia bijak di Bali yang tergabung pada LSM Merah Putih, atas anjuran Prof. John Anderson – seorang Indonesianis dari Inggris yang sering ke Bali, diminta untuk membaca artikel2 yang sangat tajam, kritis, analistis, dan sangat mencerdaskan sekaligus mengejutkan di: http://PolitikCerdas21.blogspot.com/. Beliau mengatakan bahwa blogger ini adalah luar biasa bagi siapa saja yang ingin mendalami politik praktis, kebudayaan dan agama.

Setelah membaca dengan teliti/seksama dan berulang-ulang, maka kami paham bahwa Suharto dan kroni2nya melalui sdr. Amien Rais ternyata telah membodohi dan membohongi bangsanya sendiri di saat reformasi. Kami kutipkan sedikit artikel yang luar biasa kritisnya sebagai berikut (plus sedikit tambahan analisis dari kami untuk mempertajam artikel tsb.):

- Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. … dst
- Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. … dst
- Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 (yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto atau Prabowo dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila) para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:"Milik Pribumi Muslim". Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa dan ingin membuat citra bahwa umat Muslim marah kepada Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik daripada yang “hitam”). … dst.
- Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. (Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Ini politik devide et impera) … dst.
- Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan:
a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh, misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst. (Tambahan kami: ternyata Suharto dengan anak dan cucunya tetap senyum2, aman, tentram, dan sejahtera di istananya – Cendana Jakarta, sesuatu yang luar biasa).
b) partai pendukung utamanya dibubarkan (Tambahan kami: ternyata partai Golkar dengan perangkat dibawahnya seperti PGRI, Darma wanita, dsb., tetap eksis dan sekarang kembali menjadi partai nomor satu).
c) militer kembali ke barak (Tambahan kami: ternyata para petinggi militer/polri tetap berpolitik dan menjalankan bisnis mereka as usual. Mereka bahkan telah menyusupi hampir semua partai politik yang ada (mantan2 jendralnya) dan organisasi profesi misal Himpunan Tani dipimpin dan dikuasai oleh Prabowo, menantu Suharto).
d) tidak ada usaha repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara (padahal beban utang negara terus-menerus meningkat). (Tambahan kami: ternyata tidak ada usaha untuk menyelidiki dan memaksa mereka untuk mengembalikan simpanan para petinggi ORBA dan kroni2nya yang jumlahnya disinyalir ratusan trilyun rupiah yang disimpan di bank2 luar negeri).

Sayang, bangsa ini memang baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (terutama justru pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam).

Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Sebagai reforman selundupan dengan tujuan justru menyelamatkan regim Orba, maka Amien Rais secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:
a) Ketika Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional menunjuk Habibie sebagai penggantinya, maka kaum intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng.
b) Pemilu pertama setelah Suharto jatuh, maka partai politik dibikin banyak sekali, tujuan utama adalah devide et impera (pecahbelah kekuatan lawan). Dana pendirian partai diambilkan dari Bulog gate; PAN mendapatkan dukungan keuangan yang besar dari regim Orba, tidak heran kalau kampanye cukup mengagetkan dan dapat menggaet banyak suara walau sebagai partai baru (mirip dengan kasus PKS, lihat bawah).
c) Ketika PDIP menang pemilu (tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali), regim ORBA masih merasa takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto); maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon "Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Maka Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).
d) Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA (regim Orba yang pakar dalam bunuh membunuh dan adu domba juga menghabisi Munir-Kontras serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah).
e) Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.
f) Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto, serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan resmi dan restu dari HMI, KAHMI, Muhammadiyah, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta petinggi HMI, KAHMI, Muhammadiyah, dan MUI sudah tidak pernah lagi mengusik Suharto beserta kroninya, karena sudah kenyang akan keduniawian: kekuasaan dan materi/uang. Akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat, aman, tentram, dan sejahtera sampai saat ini (mei 2006), sebalikanya bangsa Indonesia terusmenerus terpuruk.

Saat ini, masyarakat luas yang kebanyakan buta politik telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar). Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja!!! Setelah rakyat yang buta politik tertipu dan percaya bahwa telah terjadi reformasi sungguhan, maka kaum bablasan ORBA ini lalu justru “mengobok-obok sampai mabok reformasi palsu” ini, setelah rakyatnya benar2 mabok, kemudian regim bablasan Orba menimpakan/mengalihkan semua krisis bangsa akibat kesalahan regim Suharto ke generasi reformasi palsu ini (jurus lempar tanggung jawab), dengan demikian generasi tua ini telah berhasil membalik situasi: rakyat yang bodoh politik menjadi rindu kembali akan regim Soeharto/militer dan mulai membenci reformasi (yang sebenarnya palsu ini).
… dst.

Saran kami, sebaiknya anda baca sendiri di web site tsb diatas, masih banyak artikel yang luar biasa bagusnya. Sebagai tambahan, berita terbaru di harian Kompas, Kamis tgl. 20 April 2006 – hal. 2, nampak disitu Amien R. diapit mantan dua jendral kesayangan Suharto: Try Sutrisno dan Wiranto. Dua jendral yang tangannya berlumuran darah para korban pelanggaran HAM berat. Photo tsb. telah mengindentifikasikan siapa AR dan habitat yang sebenarnya.

Dengan demikian, kami menuntut agar Amien Rais mau bertanggung jawab atas penyelundupan, pembelokan bahkan penipuan reformasi 1998. Selain itu, kami menghimbau agar kaum cerdik-pandai-bijak di seluruh Indonesia menyadari akan telah terjadinya reformasi palsu ini, dan segera sadar, bangun, serta berkumpul untuk melanjutkan kembali reformasi yang benar, yang akan membawa ke kesejahteraan, keamanan dan ketentraman kepada seluruh warga masyarakat.

II. Dosa Terbesar Regim Orde Baru

Regim Orde Baru telah menamankan roh kebudayaan nasional yang sangat fatal salahnya. Oleh regim Orde Baru, bangsa Indonesia dibuat bersifat:
- Malas bekerja TAPI TETAP INGIN KAYA-RAYA, feodal, dan munafik
- Berjiwa pengutang/pengemis: kegemaran berhutang menjadikan negara terkendali bahkan terjajah oleh negara asing, sebab setiap hutang pasti ada muatan politisnya (hutang bersyarat) dan ada komisinya! Hampir 1/3 hutang raib untuk komisi. Para pejabat negara mendapatkan komisi yang tinggi atas hutang itu, mereka menjadi milyarder plat merah. Kekayaan alam negara mereka jadikan anggunan. Akibatnya, generasi penerus yang mendapatkan getahnya!
- Berjiwa makelar: hampir semua natural resources diekspor (dengan nilai rupiah yang rendah), lalu hasil olahan natural resources itu dimport kembali dalam dollar (padahal nilai dollar sangat menjajah: 1$ = Rp. 10000,-)! Baik ekspor maupun import, para pejabat tingginya mendapatkan komisi yang besar sekali. Negara asinglah yang mendapatkan nilai tambah (added value) dan lapangan kerja (akibat industri2 yang muncul), sedangkan rakyat kecil Indonesia hanya sekedar dijadikan pasar dan mendapatkan pengangguran!
- Merendahkan martabat pendidikan: di jaman Bung Karno, seorang insinyur alumni dari ITB, pendidikan masih dihormati. Dosen PTN masih mendapatkan gaji baik, rumah dinas dan mobil dinas; guru/dosen masih dapat disebut:”Pahlawan dengan tanda jasa”. Saat itu, Indonesia mampu mengekspor dosen ke Malaysia dan negara sekitar, mahasiswa dari Asia tenggara masih banyak yang belajar di PTN di Jawa. Dijaman Soeharto, seorang petani – lulusan SD, gaji guru/dosen menjadi terbawah, namun secara politis licik guru/dosen sekedar diberi gelar:”Pahlawan tanpa tanda jasa”. Saat ini, Indonesia hanya mampu mengekspor babu, TKI dan TKW; dosen dan mahasiswa kita terbalik menjadi belajar ke Malaysia dan negara sekitar. Kemudian PTN2 top Indonesia sekedar menjadi juru kunci (ranking terbawah) di Asia.
- Memulti fungsikan militer/polri: petinggi militer/polri diberi kesempatan dan fasilitas untuk menjadi birokrat, bisnismen, dan politikus. Fungsi profesionalisme mereka menjadi hilang; rasa aman, tentram, dan adil dari masyarakat menjadi barang laka dan mahal harganya. Ekonomi dan bisnis negara menjadi rusak parah, mengingat ratusan perusahaan militer/polri tidak bisa dikendalikan dan mendapatkan hak khusus (privilege). Ekonomi dan bisnis negara boleh disebut “Ekonomi berazas kekerasan dan premanisme”. BUMN menjadi sekedar sapi perah. Semua ini meyebabkan ekonomi biaya tinggi sehingga produk dalam negeri tidak mampu bersaing. Para petinggi militer/polri ini pada umumnya bekerjasama dengan konglomerat hitam serta persh. multinasional, mereka ini tanpa cukup aktip bekerja, cukup dari singgasananya, telah mendapatkan kedudukan, komisi, dan gaji yang bagus sekali. Konspirasi destruktip antara oknum petinggi militer/polri, oknum Badan Intelijen Nasional, para milisi (Pemuda Pancasila, Pamswakarsa, Front Pembela Islam, Liga Jundulah, Front Betawi, Forum Madura, Forum Pendekar Banten, dst., yang semuanya serba kekerasan), dan pemilik modal hitam telah menjadikan Indonesia hancur, terpecahbelah, saling curiga antar etnik dan golongan, suka kerusuhan dan kekerasan, dan terus menerus mengalami krisis multi dimensional. Konspirasi destruktip ini ditujukan mengamankan multi fungsi mereka yang terlibat! Para petinggi militer/polri boleh dikatakan saat ini telah menjadi musuh utama bangsa Indonesia mengingat peran mereka yang lebih memihak kepentingan ekonomi modal asing dan konglomerat hitam serta membisniskan rasa aman masyarakat (rasa aman masyarakat mereka permainkan dengan harga yang mahal sekali!).
- Menggunakan politik devide et impera: memecah belah bangsanya sendiri! Manusia Jawa dianggap penjajah oleh manusia non Jawa (sebab pembangunan yang Jawa sentris), etnik Tionghoa dicurigai oleh manusia pribumi dan didiskriminasikan, manusia Ambon saling diadu domba, etnik Madura diadu dengan etnik Dayak, manusia dan kebudayaan Jawa ditelantarkan, manusia dan kebudayaan Arab ditinggikan. Oleh regim Soeharto, seolah-olah telah dibuat agar tiap etnik merasa etniknya dianak tirikan dan etnik lain ditinggikan, sehingga timbulah rasa saling curiga yang dalam antar etnik.
- Mempolitisir agama: ulama dibeli, cendekiawan dibeli, mahasiswa dibeli, alumni dibeli, kalau mungkin Tuhanpun dibeli oleh regim ORBA. Sehingga muncul anekdot: arti singkatan I pada MUI, ICMI, HMI, dan KAHMI menjadi untuk Istana, maka MUI menjadi Majelis Ulama untuk Istana, dst. MUI, ICMI, HMI, dan KAHMI sekarang ini tidak lagi menuntut keadilan bagi Suharto beserta regim ORBAnya (jika ada tuntutan, sebatas lipstick, atau pemanis). Dengan politisasi agama, maka di Indonesia, agama bagaikan dipimpin ketua partai politik. Tuhannya agama menjadi uang dan kekuasaan. Kotbah dan ceramah politik sulit dibedakan. Agama yang suci menjadi tempat subur kemunafikan, dan tempat bersembunyi serta berlindung yang paling aman bagi para pelaku KKN dan pelanggar HAM kelas berat. Demi kepentingan politik semata, berbagai organisasi milisi keras (seringkali berbasis agama) didirikan dan dilindungi, seperti FPI Front Pembela Islam), Laskar Jundullah, Laskar Hisbollah, dst. FPI sering melakukan tindakan bersifat merusak, kerusuhan, kekerasan dan kriminal, namun tidak pernah ditindak. Muslim yang bijak mengatakan bahwa FPI layak disebut Front Pelecehan Islam. Karena Islam adalah agama mayoritas, maka dengan kondisi seperti itu (disetir oleh Parpol dan Tuhannya disulap menjadi uang) fungsi agama sebagai pondasi kebenaran, moral dan etika sudah hancur. Batas agama dan kejahatan lalu tipis sekali, setipis kertas HVS. Mayoritas bangsa Indonesia tidak lagi punya agama yang mencitrakan keindahan, keagungan, dan kasih sayang Tuhan. Krisis moral menjadi-jadi, pelaku KKN dan pelanggar HAM berat justru bangga dan sering muncul di televisi berkaraokean dan ceramah agama, seringkali dengan latar belakang ulama. Seandainya anda menjadi Tuhan, betapa marahnya anda terhadap Indonesia, dan pasti akan menghukum Indonesia seberat-beratnya bukan? Itulah yang terjadi saat ini... pelecehan terhadap Tuhan, sehingga kita semua bagaikan kena kutukan Tuhan!
- Menghancurkan kebudayaan nasional & membudayakan konsumerisme: keyakinan asli Jawa ditindas dan ditiadakan dari KTP, perguruan khas Jawa yang lahir dari gua garba Ibu Pertiwi dan bersifat nasionalis yang disebut Taman Siswa dimatikan secara perlahan, kebudayaan asing dari Timur Tengah berikut sistem pendidikannya ditumbuhsuburkan. Etnik Tionghoa harus ganti nama, kepercayaan Kong Hu Cu juga dipersulit. Keunikan budaya masing2 daerah/lokal mau diseragamkan. Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila karya besar Bung Karno mau disempitkan/dialihkan. Lapangan bermain dan taman2 fasilitas umum dihilangkan, mal2 diciptakan: setiap akhir pekan (malam minggu) generasi muda digiring ke mal2 untuk refreshing! Acara televisi serba hiburan tidak mendidik, isinya hanya sebatas: cowok cakep, cewek cantik, kaya raya, dan hura2, asal kekayaan tidak pernah dipersoalkan (misal KKN). Coba amati adakah telenovela yang mengulas KKN – misal pejabat tinggi (polisi, hakim, jaksa) yang korup sekali? Tidak pernah bukan, acara televisi adalah kemunafikan! Tak heran bangsa ini menjadi munafik sekaligus konsumtip akibat: jiwa makelar, acara tv serba wah, dan berakhir pekan ke mal2! Luar biasa daya rusak regim Orba itu terhadap kebudayaan generasi muda! Negara Indonesia menjadi bagaikan kehilangan jatidirinya, atau bahkan kehilangan rohnya.
- Membutakan masyarakat akan politik: buta politik yang diderita oleh hampir sebagian besar masyarakat Indonesia (diperkirakan 90%), telah menjadikan bangsa Indonesia hanya menjadi sekedar alat permainan bangsa lain dan para elit politik/militer/polri hitam di pusat Jakarta. Pembutaan politik ini telah terjadi mengingat mass media informasi telah dikuasai oleh regim ORBA dan bablasannya sampai dengan saat ini (Mei 2006). Semestinya pendidikan politik diajarkan sejak di SMU atau di perguruan tinggi mengingat politik adalah bagaikan panglima negara.

Dijaman Bung Karno, nama Indonesia sangat harum dan disegani. Pegawai yang jujur dan bersih masih banyak. Saat ini nama Indonesia sangat terpuruk dan selalu berkonotasi (negatip) dengan: pengemis utang, pengekspor babu (TKW), koruptor nomor wahid, suka kerusuhan dan kekerasan. Pembelaan Bung Karno muda telah membuka mata dunia waktu itu mengenai upaya gigih bangsa Indonesia melawan kolonialisme/modal asing. Pledoi "Indonesia Menggugat" disiapkan oleh Bung Karno dengan mengkaji hampir 80 buku karangan, pidato tokoh terkemuka Barat yang ditulis dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan 10 karya para tokoh Timur. Kenyataan ini menunjukkan proses perjuangan intelektual yang luar biasa yang dilakukan Bung Karno ketika masih berumur 29 tahun! Regim Orba yang merupakan konspirasi sangat jahat antara negara/perusahaan asing dengan para pejabat tinggi di Jakarta adalah bertujuan merampok dan menghabisi kekayaan alam Indonesia! Bandingkan dengan filosofi Bung Karno: “Berdiri Diatas Kaki Sendiri (berdikari) dan go to hell with your aids!”. India dan RRC, negara sahabat Bung Karno, saat ini sehat walafiat, bahkan menuju negara adidaya! Tusukan dari belakang CIA (USA) lewat Soeharto (regim militer) terhadap Bung Karno telah membuat kita terjajah kembali entah sampai kapan lagi! (harap baca artikel lain berjudul: Bom Bali: Clash of Civilization. di: http://PolitikCerdas21.blogspot.com/). Kalau Bung Karno dikenal sebagai founding father dan nation character building, maka Soeharto dkk. layak disebut god father mafia (pelindung segala bentuk konspirasi kejahatan) dan nation character destroyer (perusak kerukunan dan karakter bangsa).

III. Kegalauan Etnik Luar Jawa

Setelah membaca dengan teliti dan seksama artikel diatas tsb., kami merasa sedih dan prihatin, serta tidak tahu harus bertindak bagaimana. Artikel itu telah menyadarkan kami, ternyata berkali-kali kami hanya menjadi sekedar permainan orang Jakarta (dan Orang asing). Regim Suharto telah berkali-kali menipu bangsanya sendiri, misalnya: Gestapu 1965, Supersemar yang hilang, Serangan Umum 1 Maret di Yogya, kasus BLBI, dst. Kali ini, bersama murid terkasihnya (Amien Rais, plus Habibie), kembali menipu bangsanya lagi melalui “reformasi palsu” demi menyelamatkan diri dan regimnya. Kami prihatin dengan kemampuan manajemen dan kecerdasan etnik Jawa yang merupakan mayoritas di Indonesia, sebab Indonesia dibawah manusia Jawa terus menerus menjadi manusia jajahan belaka, sebut saja penjajahan: Belanda, Portugis, Jepang, regim Orde Baru (sebagai boneka USA), dan saat ini: Arab/TimurTengah yang berkonspirasi dengan parpol/ormas/lsm berbasis Islam (melalui penjajahan kebudayaan dan politisasi agama), serta regim bablasan Orde Baru yang berkonspirasi dengan perusahaan internasional (plus pemerintah asing).
Prestasi Indonesia yang terusmenerus dibawah penjajahan asing kiranya akan merupakan record yang luar biasa (terlama dalam sejarah, barangkali) sehingga pantas masuk Guiness Book record (mirip dengan prestasi KKN nya yang selalu menjadi tiga besar dunia). Seolah-olah menjadi tak ada gunanya P. Jawa (atau bangsa kita) memiliki: ITB, UI, UGM, IPB, dst., sebagai sumber daya manusia (SDM) utama bangsa (karena para alumni PTN tersebut menguasai dan merajai pemerintahan dari menteri, eselon 1, staff, s/d pegawai biasa), karena mereka ternyata justru menjadi sumber krisis kecerdasan dan moral bangsa, mengingat bangsa Indonesia sampai dengan saat ini, pertengahan Mei 2006, masih saja mengalami krisis multidimensi. Semestinya PTN top tersebut menjadi benteng kebenaran, moral, kejujuran, kecerdasan dan kreativitas, bukan malah sebaliknya! Mudahnya para akademisi (dosen dan mahasiswa) ITB, UI, UGM, IPB, dst., ditipu, dibeli, diperalat dan dikerjain politisi busuk, militer/polisi preman, dan konglomerat hitam, sungguh sangat memprihatinkan.
Hingga kini, kami masih merasa dijajah asing yang berkonspirasi dengan para pejabat pusat di Jakarta (militer/polri, birokrat, poitisi, dan bussinesmen); kasus Freeport dan Exon serta hutang baru dari bank dunia/IMF adalah bukti nyata. Dengan hanya cukup menyuap 100 petinggi penting di Jakarta, perusahaan multi nasional atau negara asing sudah bagaikan memiliki Indonesia, rakyat setempat yang kaya raya akan natural resources bagaikan “ayam mati dilumbung padi”. Suku luar Jawa akan menganggap bahwa manusia Jawa adalah hanya sekedar pelaksana dari sistem kolusi/konspirasi destruktip antara: pemilik modal, negara asing, politisi busuk, oknum militer/polri, dan milisi. Apa yang disebut pembangunan luar Jawa oleh pejabat tinggi Jakarta, oleh manusia cerdas luar Jawa saat ini lebih diartikan sebagai: perampokan kekayaan alam, perusakan alam, pembodohan, sekaligus pemiskinan masyarakat setempat (luar Jawa). Tidak heran pabila: Aceh ingin merdeka, Riau ingin merdeka, Papua ingin merdeka, dan bahkan Bali pun ingin merdeka. Sebentar lagi, suku Dayak pun akan minta merdeka apabila mereka tambah cerdas (minimal dapat membandingkan betapa luar biasa makmur, aman dan sejahtera negara Brunei Darusalam yang hanya bagaikan satu titik saja dalam peta bumi Kalimantan!).
Dengan berbekal falsafah regim ORBA yang salah fatal (lihat bab II diatas), dan tidak berfungsinya PTN2 top di Jawa, serta gerilya kebudayaan asing, maka tidak heran bila manusia Jawa mengalami kemunduran kebudayaan yang signifikan (harap baca artikel lain berjudul: MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN? di: http://agamarasional234.blogsource.com/ ). Dan mengingat suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran ini adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia.
Atas dasar berbagai alasan diatas, dapat dipastikan bahwa etnik Jawa yang diwakili birokrat hitam di Jakarta akan semakin terpuruk citranya, dan akan semakin tidak disukai bahkan dimusuhi oleh suku luar Jawa, misalnya: Aceh, Riau, Dayak, Papua, dan Bali. Tidak mengherankan apabila beberapa etnik luar Jawa yang semakin cerdas seperti: Aceh, Riau, Bali, Papua, dan Dayak, ingin mendapatkan otonomi khusus atau bahkan kemerdekaan demi masa depan mereka yang lebih baik dan demi melepaskan diri dari belenggu ketidak berdayaan/kelemahan etnik Jawa dalam hal kecerdasan, manajemen, kemunafikan, dan moral! Etnik keturunan Tionghoa, yang terus menerus dianak tirikan posisinya sebagai warga negara (melalui KTP dan SKBRI), akan merasa tidak senang kepada etnik Jawa juga.

IV. Musuh Utama Bangsa Saat Ini

Dapat mengindentifikasi masalah negara dengan tepat sudah merupakan 50% solusi masalah. Semenjak 1965 s/d detik ini (2006), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya! Indonesia yang kaya sumber alam, strategis posisi geopolitiknya, dan merupakan pasar yang besar bagi industri asing (karena jumlah penduduk > 200 juta) memang menarik untuk selalu diperebutkan, pumpung masyarakatnya masih terbelakang (gampang dibodohi)! Ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran ideologi antara USA dkk (kapitalis) vs. Rusia dkk. (komunis), yang menang USA; sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia. Regim militer dibawah Soeharto beserta USA dkk., sebagai pemenang, boleh dikata adalah kelompok yang paling menikmati kekayaan negara ini, dari gas alam di Aceh (LNG Arun) s/d Free Port di Irian - jadi semua kekayaan alam dari Sabang hingga Merauke, dan ini berlansung sejak 1965 s/d 1998 (32 tahun)!
Usaha regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan dari tekanan regim reformasi melalui politisasi agama Islam memang jitu sekali. Melalui politisasi agama Islam, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.) namun gagal, kemudian terlanjur dimasukan mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Regim Soeharto hingga kini memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia mulai sekitar 1995 sampai dengan saat ini adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2006), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya! Visi Bung Karno, yang non blok dan cinta budaya sendiri, seperti India dan RRC, negara yang mempunyai kepribadian sendiri dan mandiri, saat ini hanya tinggal kenangan... Indonesia sampai detik ini (Mei 2006) sekedar menjadi ajang pertempuran ideologi asing… Sungguh sayang sekali.

Atas dasar uraian diatas, maka musuh utama bangsa saat ini adalah:
- Negara modern yang sekedar ingin membodohi, menjajah ekonomi/teknologi dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia melalui berbagai forum politik internasional dan berbagai pinjaman yang menjerat dan bersyarat.
- Negara Timur Tengah yang juga ingin ingin mendapatkan devisa, membodohi, menjajah ekonomi dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia melalui politisasi agama Islam dan kebudayaan Arab. Bantuan dari Arab/Timur Tengah untuk pendidikan harus kita waspadai, jangan sampai menghasilkan “Mafia Berkeley versi Arab” dan meniadakan kebudayaan lokal.
- Generasi tua anggota regim Orba, yang usianya pada saat ini rata2 sudah diatas 60 tahun. Mengingat reformasi yang palsu, regim tua ini masih mengendalikan mesin politik di Indonesia. Visi dan misi generasi tua perusak bangsa, terutama para pelanggar HAM dan pelaku KKN kelas berat, adalah: 1) menyelamatkan diri atau bebas dari jerat hukum 2) tetap dihormati oleh masyarakat 3) kekayaan hasil rampokan tetap aman (diparkir di LN) 4) bila meninggal dapat dimakamkan di Taman Pahlawan. Jadi, seolah-olah mereka telah mengancam generasi muda dengan berkata:”Jangan berani mengungkit masa lampau kami dan hormati kami s/d kami meninggal. Tolong, jangan lupa, makamkan kami di makam pahlawan. Setelah kami meninggal silahkan buka borok2 kami dan luruskan sejarahmu (terutatama sejarah 1965). Dan jangan lupa membayar hutang tinggalan kami kepada luar negeri yang hampir 1/3 nya kami korup dan kami simpan di luar negeri untuk cucu-cicit kami s/d tujuh turunan! Kalau kami masih hidup, jangan sekali-kali berani “menyentuh” kami, atau negara ini akan kami obok2 sampai manusianya mabok. Hanya dengan bunga uang kami di bank2 luar negeri, kiranya sudah cukup untuk mengobok-obok Indonesia!” Salah satu jurus mengobok-obok bangsanya sendiri sekaligus untuk mengalihkan perhatian bangsa dari kasus mereka (pelanggaran HAM dan KKN kelas berat), misal dengan membuat kesibukan ekstra yang sangat menyita waktu, biaya, dan tenaga masyarakat, misalnya saja: RUU Anti Pornografi, adu domba dan pelarangan Ahmadiah, UU Perburuhan, UU Uji Emisi Kendaraan, UU Pelarangan merokok, Rencana Pembatasan Bensin, kenaikan harga BBM untuk kedua kalinya, penghapusan kolom agama pada KTP, UU Pers, dst. Obok2 bangsa ini tak akan berakhir, sebelum generasi tua yang bermasalah berat ini mampus! Dengan demikian, bangsa ini akan selalu terjebak pada lingkaran setan (viscious circle: menutupi kejahatan lama dengan kejahatan baru) akibat ulah generasi tua. Pada akhirnya, setelah semua energi, waktu, dan tenaga bangsa ini terserap dan teralihkan pada masalah2 yang sepele ini, pada umumnya hal2 tsb. lalu dimentahkan lagi, atau pemerintah dibuat menjadi dewa penolong dengan membatalkan RUU tsb., setelah itu dibuat issue baru lagi. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak pernah fokus pada masalah utama, dan pemerintah “dibuat” menjadi dapat pujian (membuat issue, kemudian mengatasi issue dengan cara membatalkan issue, dan berpura-pura sebagai dewa penolong). Inilah yang disebut politik issue: membuat issue, mengendapkan issue, menghilangkan issue dengan bertindak sebagai pemenang.
- Kebodohan bangsa kita sendiri akibat para cerdik-pandai yang enggan terjun ke politik. Penelitian Prof. John Anderson menyiratkan bahwa rata2 lulusan SMA terbaik memilih masuk di Fak. Kedokteran dan Fak. Teknik, namun sayangnya setelah menjadi dokter dan insinyur, para putra/putri bangsa yang tergolong terbaik ini enggan terjun ke partai politik. Dengan demikian ParPol di Indonesia dipenuhi oleh manusia yang berkualitas rendah, berijazah palsu, bermental preman, dan sekedar dapat membayar dana ke parpol (misal untuk Caleg jadi, bayar Rp. 100 juta). Bayangkan mereka inilah yang memimpin negara! Setelah menjadi petinggi di parpol, mereka lalu menjadi politisi busuk, kemudian membayar (hire) para cerdik pandai dari universitas untuk sekedar menjadi pembantu/staffnya. Dengan demikian, apa yang terjadi di Indonesia adalah paradoksial/keanehan: negara dipimpin oleh politisi dari kelompok golongan bodoh sekaligus preman; atau di Indonesia telah terjadi keanehan: yang bodoh dan preman memimpin yang cerdik-bijaksana dan baik, dengan demikian tidak heran Indonesia terus menerus mengalami krisis.
- Multi fungsi peran militer/polri: terutama dalam bisnis dan politik telah menjadikan bangsa Indonesia kalang kabut. Seandainya mereka ini digaji baik sekali dan mau kembali ke profesinya, maka diperkirakan 70% sakit bangsa Indonesia sudah terobati. Jadi, sakit utama bangsa ini terletak ketidak profesionalan militer/polri dalam menjalankan tugasnya karena perhatian, energi, tenaga dan waktu mereka lebih terserap ke bisnis dan politik praktis.
- Kebudayaan Jawa yang lemah dalam hal manajemen, beserta watak malas bekerja namun ingin cepat kaya, feodal, munafik, tidak satunya kata dan perbuatan. Sifat positip manusia Jawa adalah keramahan, kesenian yang indah, gotong royong dan suka sebagai perekat bangsa. Politisasi agama telah mengakibatkan manusia Jawa telah kehilangan pegangan akan kebenaran/keyakinan dan mengakibatkan murka Tuhan.

Akibat total dari ke enam pokok permasalahan bangsa diatas, maka Indonesia sampai kapanpun akan dilanda krisis multi dimensi dan tidak akan pernah mandiri dan menjadi bangsa yang maju.

Semestinya masyarakat, DPR dan Pemerintah mempunyai pandangan dan komitmen yang sama akan masalah bangsa Indonesia yang paling utama dan darurat yaitu:
1. Korupsi, kolusi dan nepotisme: misal membuat UU Perlindungan saksi/pelapor dan UU Pembuktian terbalik (yang kalau ditangani secara serius sebulanpun jadi).
2. Penegakan hukum: misal pembentukan KPK ditingkat propinsi.
3. Penyederhanaan tata niaga demi masuknya investor, untuk menanggulangi pengangguran dan kemiskinan
4. Ketidak adilan dan ketimpangan pembangunan daerah luar Jawa: perlu pemerataan uang dan sekaligus pemerataan SDM.
5. Menghilangkan ras diskriminasi antar SARA.
6. Reformasi birokrasi: mengingat ketimpangan, ketidak adilan dan kesemrawutan sistem gaji di Indonesia, sekaligus perbaikan gaji serta upah buruh yang sangat tidak manusiawi alias sangat rendah.
7. Penataan bisnis militer/polri yang sangat merusak tatanan ekonomi dan bisnis negara.
8. Dst.

V. Penutup

Karena sudah kenyang ditipu oleh para kosnpirator jahat, maka kita sebagai bangsa Indonesia hendaklah jangan buta politik, melain melek (literate) politik. Dan setelah memahami kepalsuan reformasi ini, marilah kita himpun semangat dan persatuan lagi untuk mengadakan reformasi yang sungguh-sungguh! Reformasi palsu berarti yang berkuasa saat ini adalah regim bablasan Orde Baru beserta konspirannya, maka tidaklah mengherankan kalau krisis ekonomi, moral, dan kebudayaan tetap berlangsung. Hendaknya jiwa berdikari dari Bung Karno serta kemajuan negara RRC dan India dapat mengilhami kita semua.

Akhir kata, mohon dukungan anda semua untuk meneruskan artikel ini ke segenap insan di Indonesia untuk dijadikan bahan diskusi dan renungan, untuk kemudian ditindak lanjuti. Setiap manusia Indonesia yang bijak dan cerdas dimohon untuk tidak tinggal diam berpangku tangan melihat bangsanya dililit oleh tiga musuh utama negara, cara berpartisipasi yang paling sederhana adalah menulis artikel di internet lewat news group atau membuat web blog sendiri yang gratis demi pendidikan politik bangsa (yang secara merata masih buta politik), lebih dalam lagi: ikut lsm/ngo, lebih jauh lagi ikut partai politik. Dan kepada manusia Jawa, semoga mereka mau berintrospeksi diri, harapan seluruh Indonesia ada dipundak mereka (sang mayoritas)!

Sumbangan dari:
Denpasar, pertengahan Mei 2006
LSM Merah Putih
Denpasar, Bali.

QUO VADIS UI, ITB, UGM, DAN IPB?

Sumber daya manusia (SDM) Indonesia didominasi oleh: universitas2 top di P. Jawa seperti UI, ITB, IPB, UGM, ITS, UNAIR, dan ITS. PTN2 ini, yang menjadi barometer SDM berbobot, adalah institusi PTN tertua, terbesar dan termaju di Indonesia. Jadi, mereka adalah pencetak para PNS (peg. Negeri sipil) terbesar di Indonesia, dan alumni mereka saat ini menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan, dari pegawai menengah (IIIA), eselon dua, eselon satu, menteri, sekab, sekneg, direktur BI, dst. Jadi boleh dikata mereka “menguasai” atau bahkan boleh dikata sebagai penguasa Indonesia! Sayang sekali, kita dan dunia telah memahami bahwa: Indonesia terkenal sebagai negara terkorup didunia dan birokrasi Indonesia adalah birokrasi keranjang sampah. Krisis multidimensi sampai dengan saat ini masih terjadi di Indonesia. Dengan demikian dapatlah dikatakan/disimpulkan bahwa PTN2 tsb. ADALAH SEKEDAR PRODUSEN KORUPTOR TERBESAR DIDUNIA dan PRODUSEN TERBESAR BIROKRAT KERANJANG SAMPAH YANG KORUPSI BERJAMAAH! Saat ini bahkan boleh dikatakan bahwa sivitas akademika PTN2 top tsb. justru merupakan sumber masalah bagi bangsa Indonesia. Sayang sekali, akademisi mereka sering dikonotasikan sebagai pelacur intelektual alias melacurkan diri sebagai sekedar menjadi alat para: politisi busuk, jendral preman, dan konglomerat hitam di pusat (Jakarta), sekedar menjadi akademisi selibritis.

Penanaman roh kebudayaan nasional yang salah oleh regim Orde Baru yang bersifat: malas bekerja TAPI TETAP INGIN KAYA-RAYA, feodal, pengutang/pengemis, dan berjiwa makelar mengakibatkan Indonesia selalu dilanda berbagai krisis, dan rakyatnya dilanda kemiskinan dan pengangguran, sebaliknya para pejabatnya menjadi kaya raya dari hasil komisi. Jiwa pengutang: kita dididik untuk berjiwa pengemis, dan negara menjadi terjajah, sebab setiap hutang pasti ada muatan politisnya (hutang bersyarat)! Jiwa makelar: hampir semua natural resources diekspor (dengan nilai rupiah yang rendah), lalu hasil olahan natural resources itu dimport kembali dalam dollar (padahal nilai dollar sangat menjajah: 1$ = Rp. 10000,-)! Kebudayaan tinggalan ORBA ini terus dianut oleh para alumni PTN top ini. Dengan budaya seperti ini, tak heran para pejabatnya kayaraya (dari komisi ekspor-impor-pinjamaan), sedangkan rakyatnya dilanda kemiskinan dan pengangguran. Tak heran bila rakyat Aceh, Riau, Papua, Dayak, dan Bali ingin merdeka, sebab mereka bagaikan “ayam mati di lumbung padi”. Mereka sangat pilu dihati, melihat konspirasi yang sangat jahat antara negara/perusahaan asing dengan para pejabat tinggi di Jakarta dalam merampok dan menghabisi kekayaan alam mereka! Bandingkan dengan filosofi Bung Karno: “Berdikari dan go to hell with your aids!”. India dan RRC, negara sahabat Bung Karno, saat ini sehat walafiat, bahkan menuju negara adidaya! Tusukan dari belakang CIA lewat Soeharto (regim militer) terhadap Bung Karno telah membuat kita terjajah entah sampai kapan lagi! Cobalah simak dengan seksama potongan artikel dibawah ini, yang menceriterakan peran sebagian dosen UI yang justru mengabdi kepada kepentingan negara asing atau persh. multi nasional (VOC-VOC baru). PTN semestinya menjadi penjaga atau pendekar kebenaran, kejujuran, dan keadilan serta sumber inovasi atau kreativitas untuk mengatasi berbagai krisis yang melanda bangsa, sayang seribu kali sayang, ternyata yang terjadi justru kebalikannya, mereka justru bagaikan menjadi preman intelektual bagi bangsanya!

Contoh menyakitkan hati bangsa Indonesia adalah peran para Mafia Berkeley yang nota bene dosen UI dalam menghabisi bangsanya sendiri. Sedikit kutipan berikut ini (tulisan sdr. Kwik Kian Gie di Jawa Pos, tulisan penuh harap baca di artikel lain) sbb:
"Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ’hadiah terbesar’ (Indonesia), hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".

"Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar." Di halaman 39 ditulis: "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia.

Saya (KKG) tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.” Sekali lagi, semuanya itu tadi kalimat-kalimatnya John Pilger yang tidak saya kenal.

Kalau kita percaya John Pilger, Brad Sampson, dan Jeffry Winters, sejak 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa. Tak heran bila Aceh, Riau, Papua, Dayak (bahkan Bali) ingin merdeka, sebab kekayaan mereka dihabisin hampir 32 tahun oleh negara asing bekerja sama/konspirasi dengan para penguasa di Jakarta! Mereka bagaikan ayam mati dilumbung padi!

Contoh lain, dijaman pak Harto, menteri keuangan dan direktur BI nya adalah para profesor doktor dari UI dan UGM, namun pencuri BLBI (700 trilyun) adalah cukup lulusan S/D, SMP, SMA, misalnya: Edi Tanzil, Liem Swie Liong, Probo Sutejo, Suharto dan anak2nya, dst. Memalukan bukan?

Bukti lain lagi, menteri pendidikan dari UGM (Prof. Doktor Bambang), Eselon 1 dan 2 nya banyak dipegang oleh para Prof. Dr. dosen ITB, misal: Sumantri, Indrajati, dst., namun lihatlah keterpurukan pendidikan nasional kita! Dan seperti departemen Agama, Depdikbud juga sarang penyamun/koruptor. Demikian pula dept. Kesehatan, yang dipenuhi alumni/dosen UI dan UGM, juga sarang penyamun.

Bukti lain lagi, ketidak mampuan para profesor doktor di PTN tsb. untuk meluruskan kebenaran tentang: G30S 65, hilangnya Supersemar, pelecehan Serangan umum 1 Maret di Yogya, dan reformasi palsu 1998. Ini sangat memalukan.

Mau bukti lain lagi, kasus Freeport, Newmount, Exxon, dst. Adakah keberanian dan rasa malu kita sebagai bangsa? No, no, no , no …

Kolaborasi pejabat hitam, akademisi hitam, dan militer/polri hitam dengan negara asing/persh. asing telah membuat Indonesia menjadi sangat miskin dan mengalami krisis s/d saat ini. Akedemisi hitam ini ternyata adalah para alumnus top dari UI, ITB, UGM, DAN IPB. Sungguh sangat menyedihkan dan memprihatinkan bangsa Indonesia, PTN sebagai sumber kecerdasan dan kebenaran tidak berfungsi sebagaimana layaknya, atau malah sebaliknya: menjadi sumber krisis kecerdasan dan moral! Maka saya lebih baik memilih kuliah di luar negeri, takut kena virus impotensi kecerdasan dan moral!

QUO VADIS UI, ITB, UGM, DAN IPB? Jawaban anda ditunggu di:
http://PolitikCerdas21.blogspot.com/ dan http://agamarasional234.blogsource.com/
(situs pembelajaran politik, kebudayaan, dan agama - terpopuler dan barangkali terbaik)

Artikel sumbangan:
Hadiman Wardaya
Mahasiswa Pasca, tinggal di Sussex
Bidang studi jurnalism dan politics

Wednesday, April 19, 2006

WARNING: HATI-HATI MEMBACA HARIAN KOMPAS!

Visi dan misi generasi tua, regim Orde Baru, perusak bangsa adalah: 1) menyelamatkan diri atau bebas dari tuntutan hukum 2) tetap dihormati oleh masyarakat 3) kekayaan hasil rampokan tetap aman (diparkir di LN) 4) bila meninggal dapat dimakamkan di Taman Pahlawan. Jadi, seolah-olah mereka telah mengancam generasi muda dengan berkata:”Jangan berani mengungkit masa lampau kami dan hormati kami s/d kami meninggal. Tolong, jangan lupa, makamkan kami di makam pahlawan. Setelah kami meninggal silahkan buka borok2 kami dan luruskan sejarahmu (terutatama sejarah 1965 dan BLBI). Dan jangan lupa membayar hutang tinggalan kami kepada luar negeri yang hampir 1/3 nya kami korup dan kami simpan di luar negeri untuk cucu-cicit kami s/d tujuh turunan! Kalau kami masih hidup, jangan sekali-kali berani “menyentuh” kami, atau negara ini akan kami obok2 sampai manusianya mabok. Hanya dengan bunga uang kami di bank2 luar negeri, kiranya sudah cukup untuk mengobok-obok Indonesia!”

Politisasi agama, pecah belah bangsa, penyusupan, penguasaan informasi, dan money politics adalah alat utama regim Orba beserta bablasannya (bekerjasama dengan neg/persh asing). Pada detik ini (2006), para oknum bablasan ORBA juga telah menyusupi berbagai partai politik, mass media, dan kampus2 utama PTN di Jawa (melalui proyek2 terselubung, ini demi menarik simpati, mengambil hati sekaligus menaklukan kaum reforman yang ada di kampus2 PTN di Jawa).

Contoh berikut ini sangat menarik dan jeli sekali. Akan dicoba menjelaskan bagaimana indahnya regim militeristik ORBA telah menyusupi Harian Kompas yang beroplah terbesar di Indonesia. Bagi yang jeli mengamati berita di harian terbesar Kompas, nampak penyusupan telah terjadi, misalnya: hampir setiap hari selalu ada berita baik tentang para oknum jendral dan regim Orba. Coba amati, photo2 para oknum jendral yang tangannya berlumuran darah ini sering dan selalu muncul dengan latar belakang yang positip, misalnya bersama Eros Jarot, Kwik Kian Gie, Megawati, Gus Dur, Ulama, Pastur, seniman (Rendra), dst. Mereka sungguh penyusup dan bunglon yang hebat; kiranya mereka sangat licik: tak perlu memiliki atau andil modal di harian KOMPAS, namun kiranya cukup menyusupi atau sekedar menambah gaji bulanan wartawan tertentu untuk mendominasi informasi dan membuat berita positip untuk mereka, sekaligus character assasination bagi musuh2 politik mereka. Coba simak, setiap ada berita tentang tuntutan para mantan peristiwa 1965 selalu disertai photo tentang demo yang mengingatkan bahaya latent PKI (mengapa bukan bahaya regim Orba yang masih kuat bercokol?). Demikian pula artikel2nya jarang yang investigatip, malah sering membingunkan, misal analisa politik oleh Budhi Sambazy, yang kurang dalam dan selalu membingungkan arah moralitasnya (baik atau buruk, kabur sekali!). Bagi masyarakat yang ingin belajar dan cerdas politik, maka pilihan terbaik adalah internet yang: dalam, luas, investigatip, bebas dan aktip, misal untuk situs belajar politik terpopuler (dan barangkali terbaik) adalah:
http://PolitikCerdas21.blogspot.com/
Baca Komentar Benedict Anderson
Benedict Anderson [BA, Profesor Benedict Anderson Indonesianis senior dari Cornell University, Amerika Serikat]: "Yang paling menarik adalah perubahan justru di kalangan NU. Karena diketahui pada waktu tahun 1965, justru orang-orang Ansor menjadi pembantu yang sangat penting untuk tentara dalam hal menghancurkan PKI, khususnya di daerah pedalaman, di Jawa Timur, Jawa Tengah. Karena di kalangan anak muda intelektual justru mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Mereka membantu usaha Ibu Sulami untuk menelusuri jumlah orang kiri yang terbunuh di beberapa daerah. Dan mereka mulai bikin rekonsiliasi atau hati ke hati antara orang Gerwani dan orang-orang dari ormas NU, khusus untuk wanita.""Ini sangat bagus, walaupun mereka harus menghadapi fakta bahwa di antara keluarga mereka sendiri ada yang menjadi algojo. Dan rupanya mereka bersiap untuk itu. Jadi mereka tidak mati-matian membela apa yang terjadi sebelumnya. Ini berarti bahwa sebagian penting dalam masyarakat Indonesia, justru fihak yang di angkatan tuanya sangat aktif dalam masyarakat ini, berubah pikirannya. Kami belum lihat usaha yang sedemikian dari fihak Katolik, Protestan, Muhammadiyah. Tapi Insya Allah itu akan berlangsung pada tahun yang akan dateng.""Kita harus ingat bahwa orang-orang yang sudah ambil posisi, yang sudah lama menyokong Soeharto mati-matian, seperti Kompas, Jacob Oetama dan sebagainya, walaupun mungkin dalam hati kecilnya mereka mengaku bahwa apa yang terjadi tahun 1965 adalah satu manipulasi yang jahat, toh mereka tidak akan meninggalkan pendirian mereka di depan umum. Karena mereka sudah punya andil dalam proyek yang besar. Dalam proyek Orde Baru. Sampai sekarang.""Ini sering terjadi dalam politik. Bahwa orang-orang yang sebenarnya dalam hati kecilnya enggak yakin, tapi demi temennya, demi anu, namanya, demi ini, demi itu, demi untungnya; masih ngotot dengan pendapat yang sebenarnya mereka sudah tahu bahwa ini tidak benar."NU lebih jujur daripada Katolik"Kita tahu bahwa sebagian penting dari dana keuangan untuk Soeharto pada masa-masa kritis yang pertama, sebagian datang dari, ini yang bagian dalam negeri, bukan bantuan dari luar negeri, tapi dari dalam negeri sebagian besar datang dari Pertamina dan sebagian besar lagi datang dari Menteri Perkebunan Agraria, tokoh Flores yang kita semua tahu, Frans Seda. Ini kan menteri pemerintahan Soekarno, yang diangkat oleh Soekarno dan dia harus setia kepada Soekarno. Tapi justru sebaliknya. Diam-diam dia colong duit dari departemennya untuk dikasih kepada orang yang mendongkel Bung Karno.""Yang kedua itu sudah diketahui bahwa orang-orang yang sangat penting dalam mendirikan Opsus, CSIS dan sebagainya. Dua orang yang paling penting di situ, tidak semuanya orang-orang Katolik, tetapi sebagian ada. Itulah Liem Bian Kie dan adiknya dan juga Harry Tjan Silalahi. Ini semua juga mengambil peranan yang cukup jahat dalam masalah Timtim. Mereka menjadi penasehat dan operator agennya Ali Moertopo dalam berusaha mendongkel pemerintah Timtim merdeka pada tahun 1975.""Nah ini, sampai sekarang Kompas tidak pernah mau terus terang tentang peranan yang penting dari orang-orang Katolik ini. Semua ditutup dengan kata-kata halus. Ya, stylenya Kompas, bisa diketahui dengan istilah yang kita semua sudah kenal. Seperti, "Ya, saya dari dulu memang anti. Saya memang dari dulu itu kritis. Saya memang dari dulu tidak setuju." Tapi ini semacam hipokrisi yang kalau mereka betul-betul kritis, betul-betul anti, ndak mungkin mereka bukan saja survive, tapi menjadi satu konglomerat yang maha besar, yang masih mencekik dunia penjualan buku.""Jadi dalam hal ini, NU jauh lebih jujur dari Katolik. Ini tidak berarti bahwa tidak ada cukup banyak romo yang bagus, yang mengunjungi tapol dan berusaha untuk membantu mereka. Jadi, maksud saya bukan untuk mencaci maki kaum Katolik pada umumnya. Tapi harus diakui bahwa kaum Katolik pada umumnya masih menjadi satu minoritas yang tidak berani mencuci celana kolornya di pekarangan depan. Dalam hal ini sikap mereka, dibandingkan dengan sikapnya NU, tidak bisa dipuji."Semuanya terlibatRadio Nederland [RN]: "Kalau NU itu ada pemuda Ansor yang melakukan pembunuhan itu, membantu tentara. Apakah pelaku-pelaku itu juga ada dari kalangan Katolik, Protestan dan Mohammadiyah, menurut anda?"BA: "Harus diakui bahwa sebagian besar pembunuhan terjadi di pedesaan. Bukan di kota. Jadi kalau waktu itu kamu jadi PKI kelas teri, kamu akan lebih aman, lebih mungkin survive, kalau di kota. Dan ini memang NU kuat di desa, sedangkan pada umumnya Muhammadiyah, paling sedikit di Jawa, lebih kuat di kota. Katolik juga begitu, Protestan juga.""Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa yang terjadi di daerah yang jelas Katolik seperti Flores. Apa yang terjadi di sana? Saya belum pernah melihat laporan tentang ini. Jelas itu tidak dilakukan oleh Kompas cs.""Kita tahu bahwa di Bali yang membunuh justru bukan orang Islam, tapi orang Hindu. Dan mungkin lebih sadis daripada yang terjadi di Jawa. Kita tahu bahwa pembunuhan yang paling komplit di mana dipastikan semua anggota komunis dibunuh, justru terjadi di Aceh, yang pada waktu itu secara politik berafiliasi dengan Muhammadiyah.""Jadi boleh dikatakan tidak ada partai atau golongan yang tidak ada tanggung jawabnya. Kalau bukan di lapangan atau di desa, tapi sebagai otak. Di bagian intel, cukup banyak Protestan Batak di intel-intel pada waktu itu. Atau di kalangan intelektual yang menjual diri supaya bisa dapet posisi yang bagus di orde baru awal, mengharapkan kedudukan seperti itu. So, orang-orang yang tidak kena itu sedikit sekali.""Maka dari itu saya merasa harus angkat topi kepada NU dalam hal ini. Karena mereka udah kasih contoh yang bagus. Insya Allah yang lain-lainnya akan mawas diri dan memikirkannya. Insya Allah, tapi saya memang tidak banyak harapan dalam hal ini." (dikutip dari Radio Nederland seksi Indonesia, Ranesi).
Penutup

Rupanya filosofi harian Kompas adalah: “tiada hari tanpa mantan pejabat Orba yang bermasalah”, “tiada hari tanpa menampilkan para mantan pejabat Orba secara laris-manis”, Kompas kurang membuat tokoh baru dari generasi muda yang bijak, cerdas, idealis, moralis, dan nasionalis. Demikian pula, sumbangan artikel dari orang2 yang sangat kritis dan bermoral tinggi sangat kecil (ada namun minim), penulis2 di kolom Opini ya orangnya itu2 saja. Mungkinkah ini melambangkan gaya manajemen Kompas yang sepertinya tidak demokratis, dimana Jakob Utama tak pernah ada pesaingnya – bagaikan jabatan seumur hidup, ini barangkali yang membuat jiwa Kompas seperti itu – lebih berat ke regim Tua yang Nakal daripada mencari, membangkitkan dan menokohkan generasi penerus yang muda, cerdas dan baik! Filosofi yang demikian ini adalah sangat membahyakan kecerdasan bangsa!!! Atau ini sekedar penyusupan regim bablasan Orba di Kompas? Apakah ini terjadi di media lain: majalah dan televisi? Dapatkah anda memberi tanggapan akan tulisan ini? Tolong disebarluaskan sebagai bahan diskusi nasional.

Artikel sumbangan:
Hadiman Wardaya
Mahasiswa Pasca, tinggal di Sussex
Bidang studi jurnalism dan politics

Sunday, April 09, 2006

INILAH DALANG DARI SEGALA DALANG PELANGGARAN HAM DI INDONESIA

- Indonesia sejak dulu hingga kini selalu menjadi incaran negara asing untuk dijajah atau dijadikan negara boneka, contoh negara asing misalnya: Inggris, Portugis, Belanda, Jepang, USA, Singapore, Arab Saudi, dst. Alasan utama negara asing itu adalah: geo politik yang baik, kaya raya sumber alam, subur sekali, kaya akan laut yang berarti kaya akan ikan yang merupakan sumber pangan yang luar biasa, kaya manusia shg baik untuk pasar/konsumsi, indah sekali bak mutiara di katulistiwa, dst.
- Bung Karno (BK) adalah seorang jenius yang disegani oleh dunia internasional di masa hidupnya. BK mempunyai visi sangat jauh kedepan untuk Indonesia yakni Indonesia adalah: non blok, mandiri (berdikari = berdiri diatas kaki sendiri), berkepribadian kuat, berbasis Bhineka Tunggal Ika (pluralisme), serta berdasar Pancasila, dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (semboyan BK: “Go to hell with your aids!”). Pada usia yang masih muda (k.l. 30 tahun), Soekarno muda sudah berani menelorkan gagasan “Indonesia Menggugat” didepan pengadilan Belanda.
- Super power dunia saat itu (1960 s/d 1980) adalah USA yang kapitalis dan Rusia yang komunis. Kedua negara adidaya ini terusmenerus menjadi sumber kekacauan/pergolakan (atau dalang internasional) di banyak negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Indonesia dengan segala kelebihannya/kekayaan alamnya jelas merupakan target perebutan hegemoni oleh kedua negara adidaya tsb.
- Untuk menguasai Indonesia, USA dkk. dengan cerdik telah menyiapkan SDM, kelompok SDM ini nantinya disebut sebagai Mafia Berkeley (untuk intelektual sipil) dan Mafia West Points (untuk mafia Angkatan Darat). Jendral Soeharto yang cerdas namun licik mampu melihat adanya kemungkinan untuk menguasai Indonesia melalui kupdeta militer yang merangkak. Maka Soeharto dkk. lalu melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) tuk menusuk bangsanya sendiri (Bung Karno) di tahun 1965. Pada tahun 1965, Indonesia sedang dijadikan ajang pertempuran ideologi antara USA dkk. melawan Rusia dkk. USA dibelakang militer/AD dan mahasiswa, sedangkan Rusia dibelakang PKI. Di Indonesia yang menang USA, di Vietnam yang menang Rusia.
- Pembunuhan para jendral (Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) adalah dikarenakan mereka menolak melepas prinsip non blok dan menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. Selain itu, mereka harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer) dan menjadi negara boneka USA! Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkak di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Semalam sebelum pembunuhan, Soeharto telah diberitahu oleh Latief akan adanya aksi ini, namun ia tidak bertindak sama sekali. Selain itu, para jendral itu harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer, sehingga tak dapat disangkal lagi bahwa telah terjadi coup d’etat oleh TNI AD!), dan Indonesia menjadi negara boneka USA!
- Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD kemudian memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang politik di desa2 ditahun 1965, hal ini dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat sekaligus mengkambinghitamkan PKI. Cara provokasi adalah dengan melarang surat kabar umum beredar, dan hanya harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha (keduanya milik TNI AD) saja yang boleh beredar. Isi beritanya sangat provokatip dan tendensius, misalnya pesta Gerwani dan penyiksaan para jendral di Lubang Buaya; berita ini dibuat untuk menjadikan PKI musuh bersama bangsa. Pembunuhan yang lebih kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf atas kebiadaban umat NU dalam menjagal sesama anak bangsa. Semenjak sukses adu domba ditahun 1965, maka hobi para jendral TNI AD itu s/d sekarang masih diteruskan dengan banyaknya kasus2 kerusuhan massa di berbagai daerah, misalnya: Tisakti, Pembantaian Tionghoa, Ambon, Poso, Sampit, Banyuwangi-santet, dst. (harap baca artikel George Aditjondro).
- Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘boneka Indonesia’ ketangan USA dkk., hasil tangkapan pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top". Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (yang kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar." Di halaman 39 ditulis: "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia.
- Tusukan regim Soeharto atas bangsanya/Soekarno mengakibatkan kekayaan alam Indonesia dari Sabang (LNG Arun) s/d Merauke (Free Port ) jatuh ketangan negara Barat terutama USA. Regim militer dibawah Soeharto bersama USA dan negara barat lainnya bagaikan merampok Indonesia (diawal kejayaan Soeharto), misalnya konsesi tambang2: Freeport, Caltex, LNG Arun, dst; juga lewat IMF dan world bank. Manusia Dayak, Riau, Aceh, dan Irian tetap sangat miskin, walau daerahnya sangat kaya raya; yang kaya adalah pejabat Jakarta dan negara asing. Walau regim Soeharto korup sekali, IMF dan world bank terus memberikan hutangnya! Indonesia lalu menjadi akditip terhadap hutang, strategi gali-tutup hutang dilakukan, pejabat penanda tangan hutang tentu saja mendapat komisi, inilah yang membuat para petinggi Indonesia kecanduan berhutang! Soeharto sungguh2 menggadaikan negara ini ke negara asing! Boleh dikatakan bahwa 1/3 kekayaan alam Indonesia jatuh ketangan asing, 1/3 nya lagi jatuh ketangan para penguasa hitam terutama di Jakarta (birokrat, politisi, jendral AD/POLRI, dan konglomerat hitam), dan hanya 1/3 sisanya saja yang menjadi sumber APBN kita! Maka benarlah bahwa pemilik kekayaan alam Indonesia itu bukan manusia lokal seperti Dayak, Riau, Aceh, dan Irian, melainkan negara adidaya dan para oknum pejabat pusat di Jakarta. Tidak heran kalau mereka berkeinginan melepaskan diri dari Indonesia sebab mereka tetap miskin, bagaikan anak ayam mati dilumbung padi!
- Untuk mengelabui sejarah pelanggaran HAM 1965 atau kupdeta militer, maka secara licik regim militer memakai strategi: 1) Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini digelari pahlawan nasional, langkah ini disertai pendirian monumen2 yang bersifat otot dan kekerasan: patung tentara dan bambu runcing, peran kecerdasan para intelektual seperti organisasi Stovia, Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, yang justru lebih penting malah diabaikan; ini mirip strategi: “Maling teriak maling”. 2) Hari lahir Pancasila digantikan dengan hari kesaktian Pcsl. 3) Direkayasa film sejarah yang menipu yang wajib diputar secara nasional setiap tahunnya. 4) Dibuat buku wajib sejarah untuk SD s/d SMA yang menyesatkan. 5) Menciptakan sekolah bagi eselon satu pegawai negeri yaitu LEMHANAS (lembaga ini adalah monumen resmi kemenangan militer terhadap sipil, saat ini masyarakat dikelabui dengan mendudukan seorang Sipil sebagai kepalanya, apa sih arti seorang dibanding segerombolan militer? Pada umumnya kepala LEMHANAS akan dihadiahi jabatan yang amat basah, minimal menteri, seperti Yuwono Sudarsono dan Purnomo Yosgiantoro). 5) Menciptakan penataran P4 dan mata kuliah Kewiraan (dibawah kendali militer yang ketat). 6) Mewajibkan litsus dan surat bebas G30S bagi pencari kerja. 7) Stigmatisasi PKI sebagai pengkhianat bangsa. 8) Mendirikan berbagai LSM/ORMAS untuk melawan bangkitnya gerakan penegakan kebenaran sejarah 1965. 9) Menguasai berbagai mass media baik koran, radio, dan terutama TV untuk menjadi leader dalam pembentukan opini bangsa. 10) Membrangus kampus dengan wawasan Almamater (dan sekarang ini dengan strategi melibatkan para dosennya untuk ber multi fungsi yaitu: dosen, selebritis, bisnis, dan politikus). 10) Menugas belajarkan para jendral TNI/POLRI lalu beramai-ramai menempuh program MM dan MBA untuk menjustifikasi peran multi fungsi mereka (inilah saat dimulainya perusakan mutu pendidikan tinggi di Indonesia; banyak militer yang malas kuliah/belajar namun tetap ingin lulus, dan dosennyapun takut pada para preman berbintang yang digaji negara ini). 11) Terus menerus menyewa ilmuwan untuk menulis buku sejarah versi mereka (= regim militer), terutama ilmuwan Barat mengingat bangsa Indonesia masih merasa rendah diri ketimbang kulit putih. 12) Last but not least, menyelubungi kupdetat merangkak militer ini dengan menciptakan “ideologi baru yang disebut Dwi fungsi ABRI”.
- Mengingat kasus 1965 adalah kasus pelanggaran HAM yang maha besar, bahkan lebih kejam daripada Hitler di Jerman, sebab regim Soeharto membantai bangsanya sendiri itupun s/d anak-cucu, Hitler/Jerman membantai Yahudi, maka level pelanggaran HAM 1965 sudah tingkatan internasional. Para oknum Jendral AD sebagai pelaku kebiadaban yang luar biasa itu kini hidupnya selalu berkeringat dingin campur darah, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah dan hidupnya selalu dibayang-bayangi/dihantui wajah hampir sejuta jiwa korban manusia. Demi menghindari tuntutan yang maha luar biasa besarnya dan beratnya dari para korban G30S tsb., para oknum Jendral AD ini terus menerus menggunakan politisasi agama Islam untuk melawan gerakan pelurusan sejarah. Terutama menggunakan para pemuka agama, LSM2, dan cendekiawan kampus. Dana finansial bagi mereka tidak masalah, sebab 1/3 harta negara Indonesia telah mereka kuasai, ini hasil merampok bangsanya sendiri selama kurang lebih 32 tahun. Kedigdayaan mereka adalah kemampuan menguasai atau menyusupi semua mass media di Indonesia: dari televisi, radio, s/d koran. Bahkan koran terbesar di Indonesia, yakni Kompas, pun telah mereka susupi. Jika anda adalah pembaca yang sangat cerdas, teliti, serta selalu sadar dan waspada, maka setiap kali ada berita di Kompas tentang usaha pemulihan nama baik para korban stigmatisasi PKI (yang saat ini mereka sudah tua, diatas 65 th), selalu diikuti gambar/poto yang menyolok sekali tentang demonstran yang mengingatkan akan bahaya timbulnya PKI bila hak mereka dipulihkan (catatan: mengapa bukan bahaya KKN, Orba dan militerisme yang ditakutkan?), demo ini pada umumnya menggunakan atribut Islam, misalnya menggunakan bendera Front Pembela Islam. Demikian pula, tulisan bermutu Kwik Kian Gie yang berusaha membeberkan konspirasi regim Soeharto dengan regim USA tidak dapat dimuat di Kompas, melainkan Jawa Pos. Prof. Ben Anderson, ahli G30S, menyiratkan sikap mendua bos Kompas yakni Jacob Utama (sebab saat regim Soeharto berkuasa, Jacob Utama termasuk pendukungnya, untuk ini mohon dibaca artikel yang lain). Satu2nya kesulitan mereka adalah menguasai informasi di internet yang bebas-merdeka!
- Pada sekitar tahun 1990 an, Soeharto menyadari kesalahannya dalam menggadaikan dan merampok negaranya, disamping ia sudah terdesak oleh kaum reformis, maka ia pun ingin banting stir, ingin lepas dari cengkeraman USA. Selain Soeharto, Sadam Husein dan Osama Bin Laden adalah boneka USA yang sadar kalau hanya sekedar diperalat dan diperas. Salah satu cara teraman adalah berlindung dibalik agama dengan menggunakan politisasi agama. Selain mendirikan ICMI, mempekuat cengkeraman pada MUI dan HMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah segera naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan.Untuk ini, pembaca dimohon mengunjungi artikel di http://www.diskusikebudayaan3.blogspot.com yang menceritakan bagaimana begawan politik Soeharto dengan seni yang indah dan tinggi sekali memperdaya bangsanya sendiri. Dengan strategi save exit yang jitu, melalui politisasi agama, maka regim Soeharto dkk. selamat dan sejahtera s/d saat ini, namun bangsa Indonesia menjadi dimasukan kepihak Timur Tengah/Arab dalam menghadapi dunia barat!
- USA, yang dipenuhi pemenang hadiah Nobel dan orang Yahudi yang cerdas, menyadari strategi Soeharto. Maka digunakanlah alat internet untuk menembus dominasi mass media dalam negeri Indonesia yang dikuasai regim ORBA; antara lain dibuatlah web site Apa Kabar yang dikelola John McDougall dari Maryland USA. Ingat, s/d sekarang musuh paling ditakuti oleh setiap regim militer/diktator diberbagai negara adalah internet, mengingat internet tidak bisa dikontrol. Melalui web site ini, para cerdas-cendekia di Indonesia dicerahkan dan disadarkan tentang berbagai strategi Soeharto untuk berkuasa selama 30 tahunan. Artikel berbobot itu silih berganti muncul dan berasal dari para pakar politik tentang Indonesia, misal: Ben Anderson, Wiliam Lidle, Jeffry Winters, Harould Crouch, Gus Dur, Arief Budiman, M. Prabot Tinggi, George Adi Condro, Budiman Sudjatmiko, dst. Berkat artikel berbobot ini, maka percepatan reformasi terjadi dengan pesat sekali. Setelah selesai mempersiapkan manusianya, maka jago pakar politik USA dengan cerdik meluluh lantakan regim Soeharto (yang dianggap telah membangkang USA) dengan cukup membanting nilai tukar rupiah, puncaknya: 1 $ = Rp. 16.000,-. Hancurlah regim Soeharto, namun ia tetap dengan lihai memperdayai kaum reformasi, ia turun dari singgasana bagaikan tanpa tergores sedikitpun (baca artikel yang lain)! Setelah regim Soeharto runtuh, media internet Apa Kabar pun dihentikan dengan alasan kekurangan biaya dan man power. Sungguh licik dan hebooaaat ya para politisi sekaliber pemenang Nobel di USA dalam menggulung regim didikannya yang membangkang!
- Dengan merangkul Islam, oleh regim Soeharto, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA), namun dimasukan mulut buaya (ARAB); hasilnya: Indonesia saat ini justru masuk mulut harimau dan sekaligus mulut buaya! Hal ini telah mengakibatkan Indonesia terus mengalami krisis kebudayaan s/d saat ini. Semestinya Indonesia terus mempertahankan sifat non-bloknya dan menjaga/memperkembangkan budayanya sendiri! Jadi, boleh dikata antara tahun 1960-1965: Indonesia dijadikan ajang pertempuran ideologi antara USA (kapitalis) melawan Rusia (komunis); kemudian mulai dari 1998 (awal reformasi semu) s/d sekarang, Indonesia dijadikan ajang pertempuran ideologi antara Barat (modern, sekuler) melawan Arab/Timur Tengah (Islam, non sekuler). Jadi, semenjak 1965, Indonesia sebenarnya tidak pernah merdeka dan mandiri lagi. Visi Bung Karno, yang non blok dan cinta budaya sendiri, seperti India dan RRC, negara yang mempunyai kepribadian sendiri dan mandiri, saat ini hanya tinggal kenangan... Indonesia sampai detik ini (Nov. 2005) sekedar menjadi ajang pertempuran ideologi asing… Sungguh sayang sekali.
- Mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) terbatas umurnya (diperkirakan oleh para ahli tinggal sekitar 15 tahun lagi), disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya, maka negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa dari alternatip lain, strategi termudah adalah politisasi agama Islam (mirip Soeharto dan Osama Bin Laden). Dampak gelombang politisasi agama Islam dari negara TIMTENG/Arab sangat terasa sekali dengan banyaknya pergolakan di: Thailand selatan, Philipina, Afganistan, negara Balkan/Rusia, dan Indonesia. Di Indonesia, hal ini mulai terasa dengan terusiknya pluralisme atau Bhineka Tunggal Ika. Dana trilyunan rupiah dikucurkan demi menjadikan Indonesia menjadi boneka Arab, baik melalui lembaga agama, pendidikan, maupun LSM2; sampai2 organisasi preman yang dinamai Pemuda Pancasila dan Front Pembela Islam pun kebagian dana ini dan mulai beraksi dengan mendirikan banyak pesantren di Kalimantan; masjid2 diseluruh pedesaan P. Jawa menjadi indah dan bagus, ini disertai dengan mewajibkan pakaian jilbab bagi wanita2 di pedesaan. Memang salah satu alternatip tergampang menjajah negara lain adalah melalui kebudayaan, misalnya membuat dominasi kebudayaan Arab lewat agama Islam; bahkan kalau mungkin membuat negara boneka Islam. Gerilya kebudayaan asing lewat agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi dan radio, masyarakat yang awam politik tidak akan menyadarinya. Jadi, dalang berbagai kekerasan dan kerusuhan berbasis agama Islam di Indonesia dan untuk level internasional adalah kelompok fundamentalis dinegara-negara Arab (bahkan politisinya). Sayangnya, militer, POLRI, dan Badan Intelijen justru memanfaatkan mereka ini mengingat hobi mereka untuk adu domba (ingat 1965) dan hobi bermulti fungsi: ya bisnis, ya militer, ya politik; dengan demikian profesionalisme mereka tak pernah tercapai, dan rakyat harus menerima getahnya: keamanan dan ketentraman terusik. Padahal begitu mudahnya untuk melacak kaum teroris melalui aliran dana di rekening bank (apapun pasti butuh dana), menyadap pembicaraan/sms via telepon/hp, dan internet. Dasar pagar makan tanaman, hal itu tidak dilakukan mereka!
- Jadi, dapat disimpulkan dalang tragedi 1965 ada dua, yaitu: untuk level internasional adalah USA dkk. (melalui operator CIA), sedangkan untuk level nasional adalah para jendral TNI AD yang pro USA dengan pimpinan jendral Soeharto (melalui operator: pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi, mertua presiden SBY, yang kemudian meninggal secara mengenaskan). Selain itu, USA telah dengan cerdik mempersiapkan coup d’etat merangkak ini dengan teliti dan seksama, misalnya dengan mempersiapkan SDM yang berbobot yang disebut: Mafia Berkeley (untuk golongan Sipil, mayoritas berasal dari dosen Universitas Indonesia) dan Mafia West Point (untuk golongan TNI AD). Dengan demikian pengaruh USA sungguh kuat sekali melalui: para menterinya (Mafia Berkeley) dan ditopang para jendral TNI ADnya (mafia West Point). Pada saat itu, regim yang amat sangat korup seperti Soeharto, Marcos, Mobutu Seseseko, Syah Iran, Pinocet, dst., adalah hasil rekayasa politisi USA. Di negara Amerika Latin, politisi USA juga banyak mensuport regim militer yang juga dibuat amat sangat korup; demikian pula di Timur Tengah. Jendral Pinochet dari Chili, yang juga boneka USA, melakukan strategi kupdeta yang mirip dengan strategi Soeharto. Pinochet menyebut strateginya dengan nama sandi Operasi Jakarta! Dengan dibuat sangat korup, negara boneka mudah didikte oleh negara asing-tuannya! Akhir2 ini politisi USA mulai sadar bhw negara2 tsb. makin pandai, dan tidak bisa dibodohi lagi, maka arah kebijakan politiknya mulai berbeda! Dokumen nasional USA yang terbuka (setelah 30 tahun) menyiratkan hal ini, sayang dokumen ini ditutup kembali demi untuk mengelabui bangsa Indonesia untuk kesekian kalinya! Perlu diketahui, Sadam Husein dari Irak dan Osama Bin Laden pada awal mulanya adalah didikan/boneka USA, namun seperti Soeharto, mereka juga menyadari bahwa mereka hanya sekedar diperalat dan diperas oleh para politisi USA, lalu mereka justru berbalik melawan USA. Atas dasar fakta2 diatas, maka peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai pengkianatan Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI.
- Setelah berhasil melakukan pembantaian massal 1965 kemudian dapat mengelabui bangsanya dengan sejarah bohong dan bodoh tentang peristiwa itu, maka mereka ini, s/d saat ini masih terus menerus mendalangi berbagai kerusuhan yang menjurus pelanggaran HAM berat diseluruh Indonesia, seperti misalnya: tragedi Trisakti, pembantaian etnis Tionghoa 1998, tragedi Semanggi, tragedi TIMTIM, tragedi Aceh, kerusuhan Maluku, Poso, Sambas, dst., dst., dst….. Sesungguhnya, adalah amat mudah untuk menangkap para dalang kerusuhan, yakni melihat aliran dana di rekening bank yang mencurigakan, menyadap HP/telpon dan informasi di internet, namun dasar bandit kelas berat, hal ini tidak mereka lakukan atau mereka justru sembunyikan! Rasa aman bangsa Indonesia mereka mainkan demi keuntungan ekonomi dan politik semata bagi kelompok mereka, keamanan adalah bisnis yang menggiurkan! Dari pihak negara, mereka dapat anggaran, dari pihak yang ketakutan/terancam: mereka juga dapat dana penjagagaan keamanan, dari luar negeri mereka dapat sponsor dana demi goalnya tujuan negara asing itu! Sungguh licik dan berjiwa bandit para oknum jendral AD/Polisi/BIN itu!

Buku-buku G30S

Buku Sukarno File, Berkas-Berkas Soekarno 1965-1967, dan Kronologi Suatu Keruntuhan, ditulis oleh Antonie CA Dake dan diterbitkan oleh Aksara Kurnia, Jakarta. Peluncurannya dilakukan tanggal 17 November 2005 yang juga dipublikasikan Kompas. Pada intinya menyatakan Soekarno, Presiden RI pertama, adalah biang dari peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal TNI AD dalam peristiwa G30S. Sekaligus berakibat pembantaian massal mereka yang dituduh komunis. Buku serupa dengan Dake ini “G-30-S/PKI Gagal” ditulis oleh Mayjen (Purn) Samsuddin, Obor Jakarta 2004. Kedua buku ini tujuannya untuk meng-counter teori-teori yang berkembang yang dengan gamblang dan jelas menandaskan bahwa Soeharto adalah dalang G30S. Buku2 ini gagal memengaruhi opini. Karena, masyarakat kritis dengan bertanya, bisakah kalangan militer kita, khususnya TNI AD, bersikap jujur atau mengungkapkan kejadian sebenarnya waktu itu?
Sumber-sumber sejarah tentang G30S dari sumber terpercaya begitu banyak dan sudah dibaca orang. Contoh buku Deparlu AS 2001 yang keburu ditarik dari peredaran karena menelanjangi keterlibatan AS lewat CIA sebagai dalang internasional dari G30S. Namun, isinya sudah beredar luas di internet. Tulisan para sarjana setelah penyelidikan secara ilmiah, Benedict Andersson, Robert Cribb, Michael von Langenberg, Kenneth Young, Werdheim, Caldwel, Keith Foulcher, maupun sarjana Indonesia sendiri, Hermawan Sulistyo.
Biarkan saja masyarakat membaca buku Dake, serahkan saja kepada pendapat masyarakat. Buku yang tak bermutu akhirnya akan jadi onggokan sampah. Persis buku-buku karangan para tokoh Orba, yang akhirnya hanya dijual di pasar loak.

Kesimpulan

Peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai pengkianatan regim Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI.

Visi negara Indonesia yang dikumandangkan Bung Karno sebagai negara yang non blok, mandiri, tidak mau tergantung pada utang luar negeri, berkepribadian nasional yang kuat, Bhineka Tunggal Ika (pluralisme), serta berdasar Pancasila sudah semakin menjauh dan pudar. Negara-negara sahabat Bung Karno, seperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini sudah menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC dan India.

Saran-saran

Mengapa bangsa ini selalu gagal dalam menegakan kebenaran akan sejarah? Jawabnya mudah! Tiga tiang utama penopang demokrasi telah tumbang, yakni:
- agama sebagai pemilik otorita kebenaran tertinggi sudah terbeli, lihat saja ulah ara ulamanya.
- Universitas, terutama PTN, sebagai pemilik otorita analisis dan sintesis demi penegakan kebenaran keilmuan juga telah terbeli, lihatlah peran multi fungsi para dosennya.
- Mass media yang seharusnya menjadi ujung tombak pencerdasan bangsa, terusmenerus dikuasai/disusupi regim tua untuk mengarahkan opini publik.
Mengingat semua hal diatas, kita semua, yang masih mencitai negara, yang ingin melihat tegaknya kebenaran, yang ingin mempersingkat waktu demi bangkitnya kembali Indonesia, hendaklah berupaya sekuat mungkin untuk melakukan aksi (bukan hanya omong); beberapa alternatip aksi yang mudah dilakukan namun sangat besar dampaknya adalah:
- Meningkatkan publikasi lewat tv, radio, dan surat kabar tentang kebenaran sejarah dan peran negara asing yang terus ingin mendominasi kita.
- Mengusulkan kepada media internasional ternama seperti BBC dan CNN untuk mengungkapkan berbagai pelanggaran HAM di Indonesia.
- Membuat film seperti Schlinder list atau The Pianist Man (yang menelanjangi kekejaman Nazi secara bagus sekali), dengan tujuan menguak kebenaran berbagai pelanggaran HAM (PHAM) sekaligus pendidikan politik, jadi kalau perlu ya dibuat di Luar Negeri.
- Mendaya gunakan internet yang bebas-merdeka untuk membuat situs, blogger, milling list, news group untuk pengungkapan sejarah dan pendidikan politik. Ini untuk menyaingi dominasi regim militer yang s/d saat ini (2006) masih mendominasi mass media dalam negeri, kalau perlu ya diorganisasi dari Luar Negeri.
- Menyurati anak cucu para jendral pelaku PHAM yang masih di SD atau SMP setiap minggu secara bergantian (antara para korban PHAM dan simpatisannya), supaya mereka selalu menanyakan kepada kakeknya pertanyaan berikut ini:”Eyang, benarkah eyang telah membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa dan membunuh anak cucu mereka dengan melarang berbisnis? Mengapa eyang kejam sekali sih?” Surat harus didesain seindah dan semudah mungkin ntuk dicerna level anak2. Ini demi memberikan hukuman sosial.
- Menuntut para pemimpin agama yang tidak peka hati nuraninya akan keadilan, lihat mereka s/d saat ini diam saja!
- Menuntut para sivitas akademika perguruan tinggi (termasuk mahasiswa) yang tidak peka akan kebenaran, lihat mereka s/d saat ini seolah-olah menutup mata-hati-telinganya!
- Menyadarkan sivitas akademika (dosen, alumni, dan mahasiswa) Universitas Indonesia bahwa sejak jaman 1965 s/d sekarang peran negatip mereka sangat menonjol, misalnya: dalam pendirian regim ORBA, dalam pembelokan arah Reformasi, dalam penyelamatan regim ORBA. Demikian pula dengan ITB, UGM dan IPB. Politisi busuk sadar bahwa apabila para mahasiswa dan dosen di 4 PTN top ini bergerak maka akan terjadi efek bola salju, oleh sebab itu mereka perlu dikebiri; salah satu cara adalah dengan “membeli” PTN tsb.! Artinya money politics terselubung, yaitu dengan memberikan berbagai jabatan multi fungsi (menteri, eselon 1 dan 2) dari PTN2 ini. Multi fungsi berarti: ya dosen, ya politisi, ya birokrat pusat, ya pelacur intelektual. Selain itu supaya mereka tidak iri dengan multi fungsi militer!
- Menerbitkan buku, pamlet, dan selebaran. Mengadakan seminar, sarasehan, diskusi, dst.
- Selalu menggalang kekuatan riil untuk senantiasa bergerak, dan mempersatukan langkah melalui internet.
Bila semua hal diatas masih gagal, maka cara termujarab adalah menginternasionalisasikan kasus PHAM 1965 ini (beserta PHAM yang lain: seperti tragedi Mei 1998). Aksi ini harus melibatkan organisasi internasional seperti Amnesti Internasional, Human Rights Watch, ICW, dst., dan yang paling penting harus juga menyeret politisi USA/CIA yang terlibat dan menjadi dalang internasionalnya (kasus 1965) sebagai terdakwa (jadi tidak hanya Soeharto Cs. sebagai dalang level nasional); dengan cara demikian, pasti kebenaran akan menang. Marilah bercermin pada kasus pelanggaran HAM berat seperti: pembantaian Yahudi, Bosnia, Kamboja, Ruanda, dan Sudan; ternyata dengan membuat persoalan ini internasional, maka pelakunya dapat diseret ke depan pengadilan; itulah yang semestinya dilakukan oleh para pejuang kebenaran di Indonesia, baik yang di dalam maupun di luar negeri! Di masing2 negerinya, para setan pelanggar HAM berat ini terlalu kuat dan mampu membina pemujanya sendiri! Dengan otak yang cerdas dan cemerlang, disertai niat baik, kiranya tidak ada hal yang mustahil, tidak ada kebenaran yang tidak bisa diungkap! Tuhan itu Maha Adil. Selamat berjuang, dan mohon artikel ini disebar luaskan.

Saturday, March 11, 2006

Konpirasi Jahat Soeharto, CIA, dan Mafia UI Dalam Menghabisi Bung Karno

Terjerat Kekuatan Barat

Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkap di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini sudah menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC dan India.

Dalam buku yang ditulis John Pilger dan yang juga ada film dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the World, antara lain, dikatakan: “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar”.

Ini terkenal dengan istilah nation building dan good governance oleh "empat serangkai" yang mendominasi World Trade Organisation (Amerika Serikat, Eropa, Canada, dan Jepang), dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF, dan Departemen Keuangan AS). Mereka mengendalikan setiap aspek detail dari kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara termiskin membayar USD 100 juta per hari kepada para kreditor Barat. Akibatnya adalah sebuah dunia yang elitenya -dengan jumlah lebih sedikit dari satu miliar orang- menguasai 80 persen kekayaan seluruh umat manusia."

Itu ditulis oleh John Pilger, seorang wartawan Australia yang bermukim di London, yang tidak saya kenal. Antara John Pilger dan saya, tidak pernah ada komunikasi. Namun, ada beberapa kata yang saya rasakan berlaku untuk bangsa Indonesia dan yang relevan dengan yang baru saya kemukakan. Kalimat John Pilger itu begini: "Their power derives largely from an unrepayable debt that forces the poorest countres..." dan seterusnya. Dalam hal Indonesia, keuangan negara sudah bangkrut pada 1967. Paling tidak, demikianlah yang digambarkan oleh para teknokrat ekonom Orde Baru yang dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk memegang tampuk pimpinan dalam bidang perekonomian. Maka, dalam buku John Pilger tersebut, antara lain, juga dikemukakan sebagai berikut:

(Saya kutip halaman 37) "Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ’hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".

"Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar." Di halaman 39 ditulis: "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia.

Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.” Sekali lagi, semuanya itu tadi kalimat-kalimatnya John Pilger yang tidak saya kenal.

Kalau kita percaya John Pilger, Brad Sampson, dan Jeffry Winters, sejak 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa.

Sejak itu, Indonesia dikepung oleh kekuatan Barat yang terorganisasi dengan sangat rapi. Instrumen utamanya adalah pemberian utang terus-menerus sehingga utang luar negeri semakin lama semakin besar. Dengan sendirinya, beban pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya semakin lama semakin berat. Kita menjadi semakin tergantung pada utang luar negeri. Ketergantungan inilah yang dijadikan leverage atau kekuatan untuk mendikte semua kebijakan pemerintah Indonesia. Tidak saja dalam bentuk ekonomi dan keuangan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Utang luar negeri kepada Indonesia diberikan secara sistematis, berkesinambungan, dan terorganisasi secara sangat rapi dengan sikap yang keras serta persyaratan-persyaratan yang berat. Sebagai negara pemberi utang, mereka tidak sendiri-sendiri, tetapi menyatukan diri dalam organisasi yang disebut CGI.

Negara-negara yang sama sebagai pemberi penundaan pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya yang jatuh tempo menyatukan diri dalam organisasi yang bernama Paris Club. Pemerintah Indonesia ditekan oleh semua kreditor yang memberikan pinjaman kepada swasta Indonesia supaya pemerintah menekan para kreditor swasta itu membayar tepat waktu dalam satu klub lagi yang bernama London Club. Secara kolektif, tanpa dapat dikenali negara per negara, utang diberikan oleh lembaga multilateral yang bernama Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia. Pengatur dan pemimpin kesemuanya itu adalah IMF. Jadi, kesemuanya itu tidak ada bedanya dengan kartel internasional yang sudah berhasil membuat Indonesia sebagai pengutang yang terseok-seok.

Sejak itu, utang diberikan terus sampai hari ini. Dalam krisis di tahun 1997, Indonesia sebagai anggota IMF menggunakan haknya untuk memperoleh bantuan. Ternyata, ada aturan ketat untuk bantuan itu. Bantuan uang tidak ada, hanya dapat dipakai dengan persyaratan yang dibuat demikian rupa, sehingga praktis tidak akan pernah terpakai. Dengan dipegangnya pinjaman dari IMF sebagai show case, IMF mendikte kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia, yang dengan segala senang hati dipenuhi oleh para menteri ekonomi Indonesia, karena mereka orang-orang pilihan yang dijadikan kroni dan kompradornya.

Maka, dalam ikatan EFF itulah, pemerintah dipaksa menerbitan surat utang dalam jumlah Rp 430 triliun untuk mem-bail out para pemilik bank yang menggelapkan uang masyarakat yang dipercayakan pada bank-bank mereka. Mereka tidak dihukum, sebaliknya justru dibuatkan perjanjian perdata bernama MSAA yang harus dapat meniadakan pelanggaran pidana menurut undang-undang perbankan. Dalam perjanjian perdata itu, asalkan penggelap uang rakyat yang diganti oleh pemerintah itu dapat mengembalikan dalam bentuk aset yang nilainya sekitar 15 persen, dianggap masalahnya sudah selesai, diberikan release and discharge.

Lima tahun lamanya, yaitu untuk tahun 1999 sampai dengan tahun 2003, pembayaran utang luar negeri yang sudah jatuh tempo ditunda. Namun, mulai tahun 2004, utang yang jatuh tempo beserta bunganya harus dibayar sepenuhnya. Pertimbangannya tidak karena keuangan negara sudah lebih kuat, tetapi karena sudah tidak lagi menjalankan program IMF dalam bentuk yang paling keras dan ketat, yaitu EFF atau LoI.

Setelah keuangan negara dibuat bangkrut, Indonesia diberi pinjaman yang tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisanya sendiri habis total. Pinjaman diberikan setiap pemerintah menyelesaikan program yang didiktekan oleh IMF dalam bentuk LoI demi LoI. Kalau setiap pelaksanaan LoI dinilai baik, pinjaman sebesar rata-rata USD 400 juta diberikan. Pinjaman ini menumpuk sampai jumlah USD 9 miliar, tiga kali lipat melampaui kuota Indonesia sebesar USD 3 miliar. Karena saldo pinjaman dari IMF melampaui kuota, Indonesia dikenai program pemandoran yang dinamakan Post Program Monitoring.

Mengapa Indonesia tidak mengembalikan saja yang USD 6 miliar supaya saldo menjadi USD 3 miliar sesuai kuota agar terlepas dari post program monitoring. Berkali-kali saya mengusulkan dalam sidang kabinet agar seluruh saldo utang sebesar USD 9 miliar dikembalikan. Alasannya, kita harus membayar, sedangkan uang ini tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisa milik sendiri habis total. Cadangan devisa kita ketika itu sudah mencapai USD 25 miliar, sedangkan selama Orde Baru hanya sekitar USD 14 miliar. Yang USD 9 miliar itu harus dicicil sesuai jadwal yang ditentukan oleh IMF. Skemanya diatur sedemikian rupa sehingga pada akhir 2007 saldonya tinggal USD 3 miliar. Ketika itulah, baru program pemandoran dilepas. Alasannya kalau yang USD 9 miliar dibayarkan sekarang, cadangan devisa kita akan merosot dari USD 34 miliar menjadi USD 25 miliar. Saya mengatakan, kalau yang USD 9 miliar dibayarkan, cadangan devisa kita meningkat dari USD 14 miliar menjadi USD 25 miliar. Toh pendapat saya dianggap angin lalu sampai hari ini.

Mari sekarang kita bayangkan, seandainya cadangan devisa kita habis pada akhir 2007. Ketika itu, utang dari IMF tinggal USD 3 miliar sesuai kuota. Barulah ketika itu utang dari IMF boleh dipakai. Olehnya secara implisit dianggap bahwa ini lebih kredibel, yaitu mengumumkan bahwa cadangan devisa tinggal USD 3 miliar yang berasal dari utang IMF. Kalau seluruh utang yang USD 9 miliar dibayar kembali karena sudah mempunyai cadangan devisa sendiri sebesar USD 25 miliar dikatakan bahwa Indonesia tidak akan kredibel karena cadangan devisa merosot dari USD 34 miliar menjadi USD 25 miliar.

Jelas sekali sangat tidak logisnya kita dipaksa untuk memegang utang dari IMF dengan pengenaan bunga yang tinggi, sekitar 4 persen setahun, tanpa boleh dipakai. Jelas sekali bahwa Indonesia dipaksa berutang yang jumlahnya melampaui kuota yang sama sekali tidak kita butuhkan. Tujuannya hanya supaya Indonesia dikenai pemandoran yang bernama post program monitoring. Jelas ini hanya mungkin dengan dukungan dan kerja sama dari kroni-kroninya Kartel IMF.

Mengapa kami dan teman-teman yang sepikiran dan sepaham dikalahkan terus-menerus? Mengapa pikiran yang tidak masuk akal seabsurd itu dipertahankan? Sebab, para menteri ekonomi yang ada dalam kabinet dan otoritas moneter sedikit pun tidak menanggapinya. Memberikan komentar pun tidak mau. Mengapa? Sebab, perang modern yang menggunakan seluruh sektor ekonomi sebagai senjata, terutama sektor moneternya, membutuhkan kroni atau komprador bangsa Indonesia sendiri yang mutlak mengabdi pada kepentingan agresor.

Kalau kita percaya pada Brad Sampson, Jeffrey Winters, dan John Pilger, dan kita perhatikan serta ikuti terus sikap satu kelompok tertentu, kiranya jelas bahwa kelompok pakar ekonomi yang dijuluki "the Berkeley Mafia" adalah kelompok kroni dalam bidang ekonomi dan keuangan. Lahirnya kelompok tersebut telah dikemukakan dalam studi Brad Sampson yang tadi saya kutip. Pengamatan saya sendiri juga membenarkan bahwa kelompok itu menempatkan dan memfungsikan diri sebagai kroni kekuatan asing.

Yang paling akhir menjadi kontroversi adalah sikap beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu terhadap uluran tangan spontan dari beberapa kepala pemerintahan beberapa negara Eropa penting berkenaan dengan bencana tsunami. Baru kemarin media massa penuh dengan komentar minor mengapa tim ekonomi pemerintah utang lagi dalam jumlah besar sehingga jumlah stok utang luar negeri keseluruhannya bertambah? Ini sangat bertentangan dengan yang dikatakan selama kampanye presiden dan juga dikatakan oleh para menteri ekonomi sendiri bahwa stok utang akan dikurangi. Berdasar pengalaman, saya yakin bahwa kartel IMF yang memaksa kita berutang dalam jumlah besar supaya dapat membayar utang yang jatuh tempo. Buat mereka, yang terpenting memperoleh pendapatan bunga dan mengendalikan Indonesia dengan menggunakan utang luar negeri yang sulit dibayar kembali.

Mafia Berkeley

Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka mempunyai atau menciptakan keturunan-keturunan. Para pendirinya memang sudah sepuh, yaitu Prof Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, J.B. Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.

Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat sebagai ketua Bappenas dan bermarkas di sana. Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang "kecolongan" tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani.

Mereka berhasil mempengaruhi atau "memaksa" Gus Dur bahwa mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin. Tidak puas lagi, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal, kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang.

Yang mengejutkan adalah Presiden Megawati yang mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia, walaupun dia bukan anggotanya. Ada penjelasan tersendiri tentang hal ini. Presiden SBY sudah mengetahui semuanya. Toh tidak dapat menolak dimasukkannya ke dalam kabinet tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Sri Mulyani, Jusuf Anwar, dan Mari Pangestu, seperti yang telah disinaylir oleh beberapa media massa.

Peranan UI dalam Konspirasi Destruktip

Setelah dr. Mahar Marjono sukses mengemban tugas Soeharto dalam “mempersingkat” hidup Bung Karno (meninggal pada usia sekitar 66 th.), maka Mahar Marjono diangkat menjadi Rektor UI. Dengan ini, maka konspirasi tiga serangkai: USA-Militer-UI mulai terjadi. Untuk menguasai SDM top Indonesia, maka dibentuklah mafia Berkeley (yang sipil, yang notabene para oknum akademisi UI) dan mafia West Point (yang militer, yang notabene para oknum petinggi TNI AD/Polisi). Sejarah dan pendidikan Indonesia mengalami kegelapan disaat Rektor UI dijabat oleh jendral TNI AD yaitu Nugroho Notosusanto. Hari lahir Pancasila diabaikan, sejarah nasional dijungkir balikan: nama2 jalan besar diseluruh kota besar di Indonesia harus memakai nama jendral AD (Yani, Tendean, dst), peran BK diminimalkan, peran militer di blow up, peran inteligensia/kecerdasan disempitkan, dan wawasan almamater (pembungkaman kampus) dilaksanakan. Para pelacur intelektual UI sungguh banyak, mereka ini telah ikut serta menenggelamkan Indonesia, sudah saatnya mereka mengalami hukuman sosial dengan membeberkan dosa-dosa terselubung mereka! Prof. Ismail Suni, Yusril, Jimmly Asidiqi, Miranda Gultom, Anwar Nasution, Nazarudin, dst., adalah termasuk para konspiran. Pada umumnya, mereka ditokohkan terlebih dahulu melalui televisi sebagai intelektual yang kritis (politik kambing putih); kemudian setelah beberapa bulan dan telah mempunyai reputasi nasional, maka mereka diselundupkan/disusupkan dan diangkat menjadi pejabat penting regim ORBA (dan bablasannya) dalam pemerintahan (eselon 1, 2, atau menteri). Konspirasi destruktip USA-Militer-UI yang berhasil menusuk Bung Karno dari belakang (kupdeta yang merangkak) menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis dan sulit kembali menjadi bangsa yang sehat sehat.

Dalam perkembangannya, Soeharto dan regim penerusnya tidak hanya menggunakan UI, melainkan juga memanfaatkan para pelacur intelektual dari: ITB, UGM dan IPB. Seperti diketahui, UI, ITB, IPB, dan UGM adalah institusi perguruan tinggi negeri (PTN) tertua dan terbesar di Indonesia. Jadi, mereka adalah pencetak para PNS (peg. Negeri sipil) terbanyak, tersenior dan terbesar di Indonesia, dan alumni mereka menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan; dari pegawai menengah (IIIA), eselon dua, eselon satu, dan menteri. Sayang sekali, masyarakat telah memahami adanya istilah korupsi berjamaah dan birokrasi keranjang sampah; ini ibarat mengatakan bahwa keempat PTN itu adalah produsen koruptor dan birokrat keranjang sampah terbesar didunia (ingat prestasi KKN kita selalu nomor satu atau tiga besar)! Melihat, memahami, dan mengalami sendiri berbagai krisis di Indonesia, sudah sepatutnya kalau kita tidak perlu mensyukuri kehadiran ITB, UI, UGM, dan IPB, mereka tidak membawa berkah dan rahmat ke masyarakat; atau justru sebaliknya, kita harus merasa prihatin atas moral hazard dan tingkat kecerdasan mereka, mereka yang dianggap kelompok terpandai di Indonesia ternyata tidak pernah bisa membawa Indonesia ke bangsa yang mandiri, sejahtera, adil, berwibawa, dan berkepribadian! Ternyata mereka, kalau diijinkan pembaca, boleh diibaratkan dan boleh disebut sekedar sampah masyarakat yang terhormat (sampah berdasi) dan sekedar alat politisi busuk atau alat negara asing dalam membodohi bangsanya sendiri!

Mari Mewaspadai Mass Media Terutama TV

Regim ORBA (dan bablasannya) menguasai hampir 75% mass media di Indonesia; maka mereka dengan mudah menyusupkan manusia2nya melalui politik “kambing putih”; dan sebaliknya melakukan character assasination/kambing hitam bagi musuh2 politiknya! Seringkali mereka cukup memberi gaji tambahan bulanan bagi para kuli tinta, tanpa harus mendirikan mass media corporation, sungguh jeli dan licik! Dengan menguasai mass media, maka mereka dapat membentuk mind set (pola pikir) bangsa Indonesia sesuai kehendak mereka.

Kambing Putih adalah strategi memberikan gelar yang hebat agar didengar masyarakat dan untuk mendongkrak dan menjadikan level nasional, contoh politik kambing putih adalah:
- Prof. Sumitro (besan Soeharto): digelari Begawan Ekonomi, padahal anak2nya terlibat maha kejahatan (Prabowo: pembantaian Cina Mei 98, dan Sudrajat J. dan Hasyim: kasus BLBI, dst), jadi mestinya begawan Durna (karena suka menipu Pendawa, muridnya sendiri!). Dijaman beliau, ekonomi kita mulai dijajah Barat!
- Marie Muhammad: digelari Mister Clean, padahal saat beliaulah terjadi kasus BLBI, jadi semestinya Mister berlepotan saja!
- Zainudin MZ: digelari Dai Sejuta Umat, padahal dai politik untuk menggaet suara pemilih! Semestinya digelari dai sejuta dollar, atas upahnya menipu umat Islam melalui politisi agama!
- Tanri Abeng: digelari Manajer Satu Milyar, padahal dipakai untuk menghisap BUMN! Semestinya manajer sejuta kasus, atas upahnya membuat BUMN menjadi sapi perah politisi, petinggi militer dan polri!
- Prof. Yuwono Sudarsono: penjaga setia dominasi Militer atas Sipil dan dwi fungsi ABRI, maka ia diselundupkan ke LEMHANAS (alat intelektual militer) dan saat ini menjabat MENHAN. Bagaimana para petinggi militer tidak pakar dalam politik kalau pekerjaan utamanya beralih ke politik (sehingga tugas utamanya terbengkelai, apalagi juga pelaku bisnis ilegal) yang menghasilkan account di bank menjadi ukuran XL (puluhan milyar rupiah), yang semestinya ukuran S (small) mengingat gaji pegawai negeri itu rendah sekali. Sementara itu, sipil, yang digaji rendah sehingga sulit fokus pada bidangnya, yang berusaha menguasai perpolitikan dengan baik dan etis selalu mereka ganggu dan gagalkan upayanya untuk mendominasi kancah perpolitikan nasional!
- Prof. Nazarudin Syamsudin dkk.: diselundupkan ke KPU untuk menjaga PEMILU agar regim ORBA selalu menang atau minimal termasuk tiga besar.
- Saat menjelang reformasi: Sri Mulyani dan Anwar Nasution (dosen UI) di “roketkan”, seolah-olah mereka kritis terhadap regim ORBA, padahal mereka diselundupkan demi mengamankan sisa hari Tua regim Soeharto/ORBA dari jamahan hukum dibidang Keuangan dan demi dominasi asing!
- Puncak politik kambing putih dan strategi penyelundupan adalah Amien Rais! Beliau digelari tokoh/pelopor reformasi, padahal beliau diselundupkan untuk membelokan reformasi dan menyelamatkan regim ORBA! Untuk ini baca artikel di web site di seksi Pesan Penutup dibawah.
- Dst. (sampai dengan sekarang, politik kambing putih terus dilaksanakan)

Saat ini kedudukan politik regim ORBA dan Bablasannya amat sangat kuat, lihatlah posisi: Yusril (kesayangan Soeharto) menjadi Setneg (powerful sekali dalam memfilter informasi ke presiden SBY); Miranda Gultom (kepala BI) dan Anwar Nasution (ketua BPK): untuk melindungi ORBA dari segi keuangan atas kasus BLBI, dan kasus besar lainnya (terutama di BUMN), agar sulit terungkap, padahal mengungkap KKN itu mudah sekali, cukup mempelajari histori rekening para pejabat dan tersangka secara mendalam dan tuntas, nah disinilah faktor keamanan regim Soeharto terjamin oleh Miranda Gultom dan Anwar Nasution; Jimmly Asidiqi (ketua MK): untuk melindungi ORBA dari segi hukum, agar berbagai kasus pelanggaran HAM berat sulit terungkap; dan seterusnya …masih banyak sekali. Mereka ini, pelacur intelektual sekaligus akademisi selebritis dari UI, selalu dikonotasikan pandai dan bersih dalam mass media, padahal sebaliknya!

Saat reformasi (1998) papan tulisan di Kampus UI Salemba yang berjudul: KAMPUS PERJUANGAN ORDE BARU ditutup kain hitam, tanda malu dan berkabung; mungkin sekarang sudah dibuka lagi dan ditulis ulang sebagi: “KAMPUS PERJUANGAN ORDE BARU DAN BABLASANNYA, MENERIMA ORDER PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT WALAU UNTUK MERUSAK BANGSA SENDIRI.”

Sebaliknya, Kambing Hitam adalah strategi memberikan gelar yang sangat negatip agar mereka tidak laku dimasyarakat (character assasination); contoh politik kambing hitam adalah: di PKI kan, dikonotasikan radikal (Munir, Budiman Sujatmiko, Ditasari, dst), dikonotasikan agen asing (Hendradi dan NGO/LSM yang baik dan bermoral).

Menonton TV (dan mendengarkan radio) di Indonesia harus waspada; sebab banyak skenario dibelakangnya/terselubung; pada umumnya untuk membentuk opini yang pro Regim ORBA dan bablasannya. Semakin sering seorang cendekiawan/akademisi/pengamat muncul di TV, kita harus semakin waspada pada orang itu (alat Regim ORBA dan bablasannya dan moralitasnya perlu diragukan)! Sebaliknya, semakin jarang, semakin dapat dipercaya ke idealismeannya! Sebagai contoh: pernah terjadi dialog yang sangat menggelikan, WS Rendra tidak bisa dikontrol pembicaraannya oleh Salim Said (pengamat militer, alat ORBA) dan Anhar Gogong (pengamat sejarah, alat ORBA); WS Rendra terus nerocos membahas rusaknya kebudayaan kita akibat ORBA! Sejak saat itu, WS Rendra tidak pernah muncul lagi di dialog Televisi! Jangan harap kita disuguhi dialog yang sering dengan orang yang bermoral baik dan idealis seperti: Kwik Kian Gie, Mochtar Prabotinggi, Hendradi, Teten Masduki/tokoh ICW, Dita Sari, Wardah Hafidz/ketua UPC, Munir, Jeffry Winters, Budiman Sujatmiko, Faisal Basri, dst. Seandainya mereka muncul, slot waktunya paling hanya singkat dan amat jarang; mereka dimunculkan kadang2 saja hanya untuk sekedar mengelabui bahwa stasiun TV tsb. adalah netral, padahal tidak! Sebaliknya para pengamat/akademisi yang akan dikambing putihkan akan sering ditampilkan disemua mass media terutama televisi dan radio RRI. Jadi proses kelicikan politisi ORBA/Militer adalah:
- pengkambing putihan, sampai tokoh itu menjadi tokoh nasional, biasanya diberi gelaran khusus, misal: dai sejuta umat, begawan ekonomi, mister clean, manajer satu milyar, dst.
- Seteleh menjadi tokoh nasional lalu dialkukan pengangkatan ybs. menjadi pejabat eselon tinggi termasuk menteri dan satffnya

Namun apa arti seseorang seandainya ia benar2 bersih bagi lingkungan yang amat kotor? Apa arti Kwik Kian Gie di Bappenas? Dapatkah seorang mengalahkan banyak oknum saat rapat Bappenas? Apa arti seorang Baharudin Lopa bagi Mahkamah Agung? Dapatkah ia sendirian mengalahkan para oknum saat rapat? Dst., dst. Itulah gaya Orde Baru, untuk menenangkan masa, diangkat cukup satu orang saja (biasanya yang sudah dikambing putihkan) sebagai “pembersih” suatu departemen yang sudah demikian bobrok. Apakah mungkin? Semestinya kalau mau membersihkan sesuatu yang maha rusak dan mahabesar organisasinya, yang diganti paling tidak 30% pejabat kuncinya, termasuk sistemnya dirombak, tidak hanya menyelundupkan seorang saja! Sungguh pembodohan bangsa yang luar biasa.

Pesan Penutup

Dengan keterlibatan USA dalam kupdeta 1965, semestinya para kurban PKI mempunyai alat jitu dengan membuat masalah ini menjadi masalah internasional dengan strategi tidak hanya menuntut regim militer Soehato, melainkan juga menuntut USA! Tentu saja dengan melibatkan NGO level internasional; sayang sekali nalar para kurban 1965 belum sampai kesitu! Dengan internasionalisasi masalah HAM berat, maka kans untuk membawa ybs. ke kebenaran dan keadilan akan mudah terlaksana! Karena visi/misi para konspirator/mafia 1965 (yang saat ini banyak yang sudah berusia diatas 60 th.) adalah: ”Jangan berani mengungkit masa lampau kami dan hormati kami s/d kami meninggal. Setelah kami meninggal silahkan buka borok2 kami dan luruskan sejarahmu. Kalau kami masih hidup, jangan sekali-kali kau berani melakukannya, atau negara ini akan kami obok2 sampai manusianya mabok. Hanya dengan bunga uang kami (hasil curian/merampok) yang disimpan di luar negeri, kiranya sudah cukup untuk mengobok-obok Indonesia! Ketahuilah dengan samar2 bahwa TNI AD, Kepolisian, Badan Intelijen dan Lembaga Peradilan masih dalam cengkeraman kami. Selain itu, telah kami tempatkan penjaga setia kami yaitu para pakar/pelacur intelektual di posisi yang strategis!”. Memahami misi mereka, maka upaya membawa mereka ke justice, kalau hanya level dalam negeri, hanya akan sia2 saja! Demikian pula dengan kasus pelanggaran HAM dan KKN berat yang lain!

Sebagai penutup, tulisan diatas diambil dari artikel karangan Kwik Kian Gie di Jawa Pos, edisi pertengahan Agustus 2005, dengan sedikit tambahan. Bila anda merasa artikel ini bagus dan bermanfaat untuk mencerdaskan kebudayaan bangsa Indonesia, maka mohon diteruskan keseluruh penjuru Indonesia dan dunia.

Penulis juga berharap agar tulisan ini jatuh ketangan para dosen dan mahasiswa aktivis di ITB, UI, UGM, ITS, UNAIR, UNDIP, UNIBRAW, UNPAD dan IPB, dengan maksud agar mereka menyadari/memahami bahwa banyak dosen mereka yang menjadi oknum kelas berat (level nasional atau bahkan internasional) dan yang sepantasnya dijadikan musuh bangsa!

Dan bagi anda yang mempunyai: inteligensi, idealisme, moral, dan etika yang baik, keprihatinan akan krisis di Indonesia, serta kemampuan menulis, kami menghimbau anda untuk menulis di Internet yang bebas, kritis, lugas dan pembacanya mencapai seluruh dunia! Selamat berkarya.

* Catatan: kata saya = Kwik Kian Gie, tokoh cerdas, bijak dan nasionalis.
* Semua tanggapan harap ditulis ke: pertiwiibunusantara@yahoo.com*