Abstrak - Etnik Jawa adalah mayoritas dan mendominasi Indonesia. Etnik Jawa yang diwakili oleh politisi/birokrat hitam di Jakarta akan semakin terpuruk citranya, dan akan semakin tidak disukai bahkan dimusuhi oleh suku luar Jawa, misalnya: Aceh, Riau, Dayak, Papua, dan Bali. Suku luar Jawa akan menganggap bahwa manusia Jawa adalah hanya pelaksana dari sistem kolusi/konspirasi destruktip antara: pemilik modal, negara asing, politisi busuk, oknum militer/polri, dan milisi. Apa yang disebut pembangunan luar Jawa oleh petinggi Jakarta, saat ini, ternyata oleh manusia cerdas luar Jawa lebih diartikan sebagai: perampokan kekayaan alam, perusakan alam, pembodohan, sekaligus pemiskinan masyarakat setempat (luar Jawa). Pulau Jawa yang memiliki: ITB, UI, UGM, IPB, dst., sebagai sumber daya manusia (SDM) utama bangsa (karena para alumni PTN tersebut menguasai dan merajai pemerintahan dari menteri, eselon 1, staff, s/d pegawai biasa), ternyata justru menjadi sumber krisis: kecerdasan, kreativitas dan moral bangsa, sehingga bangsa Indonesia sampai dengan saat ini, pertengahan Mei 2006, masih saja mengalami krisis multidimensi.
I. Reformasi Palsu
Kami, para manusia bijak di Bali yang tergabung pada LSM Merah Putih, atas anjuran Prof. John Anderson – seorang Indonesianis dari Inggris yang sering ke Bali, diminta untuk membaca artikel2 yang sangat tajam, kritis, analistis, dan sangat mencerdaskan sekaligus mengejutkan di:
http://PolitikCerdas21.blogspot.com/. Beliau mengatakan bahwa blogger ini adalah luar biasa bagi siapa saja yang ingin mendalami politik praktis, kebudayaan dan agama.
Setelah membaca dengan teliti/seksama dan berulang-ulang, maka kami paham bahwa Suharto dan kroni2nya melalui sdr. Amien Rais ternyata telah membodohi dan membohongi bangsanya sendiri di saat reformasi. Kami kutipkan sedikit artikel yang luar biasa kritisnya sebagai berikut (plus sedikit tambahan analisis dari kami untuk mempertajam artikel tsb.):
- Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. … dst
- Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. … dst
- Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 (yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto atau Prabowo dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila) para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:"Milik Pribumi Muslim". Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa dan ingin membuat citra bahwa umat Muslim marah kepada Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik daripada yang “hitam”). … dst.
- Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. (Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Ini politik devide et impera) … dst.
- Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan:
a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh, misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst. (Tambahan kami: ternyata Suharto dengan anak dan cucunya tetap senyum2, aman, tentram, dan sejahtera di istananya – Cendana Jakarta, sesuatu yang luar biasa).
b) partai pendukung utamanya dibubarkan (Tambahan kami: ternyata partai Golkar dengan perangkat dibawahnya seperti PGRI, Darma wanita, dsb., tetap eksis dan sekarang kembali menjadi partai nomor satu).
c) militer kembali ke barak (Tambahan kami: ternyata para petinggi militer/polri tetap berpolitik dan menjalankan bisnis mereka as usual. Mereka bahkan telah menyusupi hampir semua partai politik yang ada (mantan2 jendralnya) dan organisasi profesi misal Himpunan Tani dipimpin dan dikuasai oleh Prabowo, menantu Suharto).
d) tidak ada usaha repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara (padahal beban utang negara terus-menerus meningkat). (Tambahan kami: ternyata tidak ada usaha untuk menyelidiki dan memaksa mereka untuk mengembalikan simpanan para petinggi ORBA dan kroni2nya yang jumlahnya disinyalir ratusan trilyun rupiah yang disimpan di bank2 luar negeri).
Sayang, bangsa ini memang baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (terutama justru pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam).
Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Sebagai reforman selundupan dengan tujuan justru menyelamatkan regim Orba, maka Amien Rais secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:
a) Ketika Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional menunjuk Habibie sebagai penggantinya, maka kaum intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng.
b) Pemilu pertama setelah Suharto jatuh, maka partai politik dibikin banyak sekali, tujuan utama adalah devide et impera (pecahbelah kekuatan lawan). Dana pendirian partai diambilkan dari Bulog gate; PAN mendapatkan dukungan keuangan yang besar dari regim Orba, tidak heran kalau kampanye cukup mengagetkan dan dapat menggaet banyak suara walau sebagai partai baru (mirip dengan kasus PKS, lihat bawah).
c) Ketika PDIP menang pemilu (tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali), regim ORBA masih merasa takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto); maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon "Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Maka Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).
d) Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA (regim Orba yang pakar dalam bunuh membunuh dan adu domba juga menghabisi Munir-Kontras serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah).
e) Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.
f) Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto, serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan resmi dan restu dari HMI, KAHMI, Muhammadiyah, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta petinggi HMI, KAHMI, Muhammadiyah, dan MUI sudah tidak pernah lagi mengusik Suharto beserta kroninya, karena sudah kenyang akan keduniawian: kekuasaan dan materi/uang. Akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat, aman, tentram, dan sejahtera sampai saat ini (mei 2006), sebalikanya bangsa Indonesia terusmenerus terpuruk.
Saat ini, masyarakat luas yang kebanyakan buta politik telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar). Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja!!! Setelah rakyat yang buta politik tertipu dan percaya bahwa telah terjadi reformasi sungguhan, maka kaum bablasan ORBA ini lalu justru “mengobok-obok sampai mabok reformasi palsu” ini, setelah rakyatnya benar2 mabok, kemudian regim bablasan Orba menimpakan/mengalihkan semua krisis bangsa akibat kesalahan regim Suharto ke generasi reformasi palsu ini (jurus lempar tanggung jawab), dengan demikian generasi tua ini telah berhasil membalik situasi: rakyat yang bodoh politik menjadi rindu kembali akan regim Soeharto/militer dan mulai membenci reformasi (yang sebenarnya palsu ini).
… dst.
Saran kami, sebaiknya anda baca sendiri di web site tsb diatas, masih banyak artikel yang luar biasa bagusnya. Sebagai tambahan, berita terbaru di harian Kompas, Kamis tgl. 20 April 2006 – hal. 2, nampak disitu Amien R. diapit mantan dua jendral kesayangan Suharto: Try Sutrisno dan Wiranto. Dua jendral yang tangannya berlumuran darah para korban pelanggaran HAM berat. Photo tsb. telah mengindentifikasikan siapa AR dan habitat yang sebenarnya.
Dengan demikian, kami menuntut agar Amien Rais mau bertanggung jawab atas penyelundupan, pembelokan bahkan penipuan reformasi 1998. Selain itu, kami menghimbau agar kaum cerdik-pandai-bijak di seluruh Indonesia menyadari akan telah terjadinya reformasi palsu ini, dan segera sadar, bangun, serta berkumpul untuk melanjutkan kembali reformasi yang benar, yang akan membawa ke kesejahteraan, keamanan dan ketentraman kepada seluruh warga masyarakat.
II. Dosa Terbesar Regim Orde Baru
Regim Orde Baru telah menamankan roh kebudayaan nasional yang sangat fatal salahnya. Oleh regim Orde Baru, bangsa Indonesia dibuat bersifat:
- Malas bekerja TAPI TETAP INGIN KAYA-RAYA, feodal, dan munafik
- Berjiwa pengutang/pengemis: kegemaran berhutang menjadikan negara terkendali bahkan terjajah oleh negara asing, sebab setiap hutang pasti ada muatan politisnya (hutang bersyarat) dan ada komisinya! Hampir 1/3 hutang raib untuk komisi. Para pejabat negara mendapatkan komisi yang tinggi atas hutang itu, mereka menjadi milyarder plat merah. Kekayaan alam negara mereka jadikan anggunan. Akibatnya, generasi penerus yang mendapatkan getahnya!
- Berjiwa makelar: hampir semua natural resources diekspor (dengan nilai rupiah yang rendah), lalu hasil olahan natural resources itu dimport kembali dalam dollar (padahal nilai dollar sangat menjajah: 1$ = Rp. 10000,-)! Baik ekspor maupun import, para pejabat tingginya mendapatkan komisi yang besar sekali. Negara asinglah yang mendapatkan nilai tambah (added value) dan lapangan kerja (akibat industri2 yang muncul), sedangkan rakyat kecil Indonesia hanya sekedar dijadikan pasar dan mendapatkan pengangguran!
- Merendahkan martabat pendidikan: di jaman Bung Karno, seorang insinyur alumni dari ITB, pendidikan masih dihormati. Dosen PTN masih mendapatkan gaji baik, rumah dinas dan mobil dinas; guru/dosen masih dapat disebut:”Pahlawan dengan tanda jasa”. Saat itu, Indonesia mampu mengekspor dosen ke Malaysia dan negara sekitar, mahasiswa dari Asia tenggara masih banyak yang belajar di PTN di Jawa. Dijaman Soeharto, seorang petani – lulusan SD, gaji guru/dosen menjadi terbawah, namun secara politis licik guru/dosen sekedar diberi gelar:”Pahlawan tanpa tanda jasa”. Saat ini, Indonesia hanya mampu mengekspor babu, TKI dan TKW; dosen dan mahasiswa kita terbalik menjadi belajar ke Malaysia dan negara sekitar. Kemudian PTN2 top Indonesia sekedar menjadi juru kunci (ranking terbawah) di Asia.
- Memulti fungsikan militer/polri: petinggi militer/polri diberi kesempatan dan fasilitas untuk menjadi birokrat, bisnismen, dan politikus. Fungsi profesionalisme mereka menjadi hilang; rasa aman, tentram, dan adil dari masyarakat menjadi barang laka dan mahal harganya. Ekonomi dan bisnis negara menjadi rusak parah, mengingat ratusan perusahaan militer/polri tidak bisa dikendalikan dan mendapatkan hak khusus (privilege). Ekonomi dan bisnis negara boleh disebut “Ekonomi berazas kekerasan dan premanisme”. BUMN menjadi sekedar sapi perah. Semua ini meyebabkan ekonomi biaya tinggi sehingga produk dalam negeri tidak mampu bersaing. Para petinggi militer/polri ini pada umumnya bekerjasama dengan konglomerat hitam serta persh. multinasional, mereka ini tanpa cukup aktip bekerja, cukup dari singgasananya, telah mendapatkan kedudukan, komisi, dan gaji yang bagus sekali. Konspirasi destruktip antara oknum petinggi militer/polri, oknum Badan Intelijen Nasional, para milisi (Pemuda Pancasila, Pamswakarsa, Front Pembela Islam, Liga Jundulah, Front Betawi, Forum Madura, Forum Pendekar Banten, dst., yang semuanya serba kekerasan), dan pemilik modal hitam telah menjadikan Indonesia hancur, terpecahbelah, saling curiga antar etnik dan golongan, suka kerusuhan dan kekerasan, dan terus menerus mengalami krisis multi dimensional. Konspirasi destruktip ini ditujukan mengamankan multi fungsi mereka yang terlibat! Para petinggi militer/polri boleh dikatakan saat ini telah menjadi musuh utama bangsa Indonesia mengingat peran mereka yang lebih memihak kepentingan ekonomi modal asing dan konglomerat hitam serta membisniskan rasa aman masyarakat (rasa aman masyarakat mereka permainkan dengan harga yang mahal sekali!).
- Menggunakan politik devide et impera: memecah belah bangsanya sendiri! Manusia Jawa dianggap penjajah oleh manusia non Jawa (sebab pembangunan yang Jawa sentris), etnik Tionghoa dicurigai oleh manusia pribumi dan didiskriminasikan, manusia Ambon saling diadu domba, etnik Madura diadu dengan etnik Dayak, manusia dan kebudayaan Jawa ditelantarkan, manusia dan kebudayaan Arab ditinggikan. Oleh regim Soeharto, seolah-olah telah dibuat agar tiap etnik merasa etniknya dianak tirikan dan etnik lain ditinggikan, sehingga timbulah rasa saling curiga yang dalam antar etnik.
- Mempolitisir agama: ulama dibeli, cendekiawan dibeli, mahasiswa dibeli, alumni dibeli, kalau mungkin Tuhanpun dibeli oleh regim ORBA. Sehingga muncul anekdot: arti singkatan I pada MUI, ICMI, HMI, dan KAHMI menjadi untuk Istana, maka MUI menjadi Majelis Ulama untuk Istana, dst. MUI, ICMI, HMI, dan KAHMI sekarang ini tidak lagi menuntut keadilan bagi Suharto beserta regim ORBAnya (jika ada tuntutan, sebatas lipstick, atau pemanis). Dengan politisasi agama, maka di Indonesia, agama bagaikan dipimpin ketua partai politik. Tuhannya agama menjadi uang dan kekuasaan. Kotbah dan ceramah politik sulit dibedakan. Agama yang suci menjadi tempat subur kemunafikan, dan tempat bersembunyi serta berlindung yang paling aman bagi para pelaku KKN dan pelanggar HAM kelas berat. Demi kepentingan politik semata, berbagai organisasi milisi keras (seringkali berbasis agama) didirikan dan dilindungi, seperti FPI Front Pembela Islam), Laskar Jundullah, Laskar Hisbollah, dst. FPI sering melakukan tindakan bersifat merusak, kerusuhan, kekerasan dan kriminal, namun tidak pernah ditindak. Muslim yang bijak mengatakan bahwa FPI layak disebut Front Pelecehan Islam. Karena Islam adalah agama mayoritas, maka dengan kondisi seperti itu (disetir oleh Parpol dan Tuhannya disulap menjadi uang) fungsi agama sebagai pondasi kebenaran, moral dan etika sudah hancur. Batas agama dan kejahatan lalu tipis sekali, setipis kertas HVS. Mayoritas bangsa Indonesia tidak lagi punya agama yang mencitrakan keindahan, keagungan, dan kasih sayang Tuhan. Krisis moral menjadi-jadi, pelaku KKN dan pelanggar HAM berat justru bangga dan sering muncul di televisi berkaraokean dan ceramah agama, seringkali dengan latar belakang ulama. Seandainya anda menjadi Tuhan, betapa marahnya anda terhadap Indonesia, dan pasti akan menghukum Indonesia seberat-beratnya bukan? Itulah yang terjadi saat ini... pelecehan terhadap Tuhan, sehingga kita semua bagaikan kena kutukan Tuhan!
- Menghancurkan kebudayaan nasional & membudayakan konsumerisme: keyakinan asli Jawa ditindas dan ditiadakan dari KTP, perguruan khas Jawa yang lahir dari gua garba Ibu Pertiwi dan bersifat nasionalis yang disebut Taman Siswa dimatikan secara perlahan, kebudayaan asing dari Timur Tengah berikut sistem pendidikannya ditumbuhsuburkan. Etnik Tionghoa harus ganti nama, kepercayaan Kong Hu Cu juga dipersulit. Keunikan budaya masing2 daerah/lokal mau diseragamkan. Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila karya besar Bung Karno mau disempitkan/dialihkan. Lapangan bermain dan taman2 fasilitas umum dihilangkan, mal2 diciptakan: setiap akhir pekan (malam minggu) generasi muda digiring ke mal2 untuk refreshing! Acara televisi serba hiburan tidak mendidik, isinya hanya sebatas: cowok cakep, cewek cantik, kaya raya, dan hura2, asal kekayaan tidak pernah dipersoalkan (misal KKN). Coba amati adakah telenovela yang mengulas KKN – misal pejabat tinggi (polisi, hakim, jaksa) yang korup sekali? Tidak pernah bukan, acara televisi adalah kemunafikan! Tak heran bangsa ini menjadi munafik sekaligus konsumtip akibat: jiwa makelar, acara tv serba wah, dan berakhir pekan ke mal2! Luar biasa daya rusak regim Orba itu terhadap kebudayaan generasi muda! Negara Indonesia menjadi bagaikan kehilangan jatidirinya, atau bahkan kehilangan rohnya.
- Membutakan masyarakat akan politik: buta politik yang diderita oleh hampir sebagian besar masyarakat Indonesia (diperkirakan 90%), telah menjadikan bangsa Indonesia hanya menjadi sekedar alat permainan bangsa lain dan para elit politik/militer/polri hitam di pusat Jakarta. Pembutaan politik ini telah terjadi mengingat mass media informasi telah dikuasai oleh regim ORBA dan bablasannya sampai dengan saat ini (Mei 2006). Semestinya pendidikan politik diajarkan sejak di SMU atau di perguruan tinggi mengingat politik adalah bagaikan panglima negara.
Dijaman Bung Karno, nama Indonesia sangat harum dan disegani. Pegawai yang jujur dan bersih masih banyak. Saat ini nama Indonesia sangat terpuruk dan selalu berkonotasi (negatip) dengan: pengemis utang, pengekspor babu (TKW), koruptor nomor wahid, suka kerusuhan dan kekerasan. Pembelaan Bung Karno muda telah membuka mata dunia waktu itu mengenai upaya gigih bangsa Indonesia melawan kolonialisme/modal asing. Pledoi "Indonesia Menggugat" disiapkan oleh Bung Karno dengan mengkaji hampir 80 buku karangan, pidato tokoh terkemuka Barat yang ditulis dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan 10 karya para tokoh Timur. Kenyataan ini menunjukkan proses perjuangan intelektual yang luar biasa yang dilakukan Bung Karno ketika masih berumur 29 tahun! Regim Orba yang merupakan konspirasi sangat jahat antara negara/perusahaan asing dengan para pejabat tinggi di Jakarta adalah bertujuan merampok dan menghabisi kekayaan alam Indonesia! Bandingkan dengan filosofi Bung Karno: “Berdiri Diatas Kaki Sendiri (berdikari) dan go to hell with your aids!”. India dan RRC, negara sahabat Bung Karno, saat ini sehat walafiat, bahkan menuju negara adidaya! Tusukan dari belakang CIA (USA) lewat Soeharto (regim militer) terhadap Bung Karno telah membuat kita terjajah kembali entah sampai kapan lagi! (harap baca artikel lain berjudul: Bom Bali: Clash of Civilization. di:
http://PolitikCerdas21.blogspot.com/). Kalau Bung Karno dikenal sebagai founding father dan nation character building, maka Soeharto dkk. layak disebut god father mafia (pelindung segala bentuk konspirasi kejahatan) dan nation character destroyer (perusak kerukunan dan karakter bangsa).
III. Kegalauan Etnik Luar Jawa
Setelah membaca dengan teliti dan seksama artikel diatas tsb., kami merasa sedih dan prihatin, serta tidak tahu harus bertindak bagaimana. Artikel itu telah menyadarkan kami, ternyata berkali-kali kami hanya menjadi sekedar permainan orang Jakarta (dan Orang asing). Regim Suharto telah berkali-kali menipu bangsanya sendiri, misalnya: Gestapu 1965, Supersemar yang hilang, Serangan Umum 1 Maret di Yogya, kasus BLBI, dst. Kali ini, bersama murid terkasihnya (Amien Rais, plus Habibie), kembali menipu bangsanya lagi melalui “reformasi palsu” demi menyelamatkan diri dan regimnya. Kami prihatin dengan kemampuan manajemen dan kecerdasan etnik Jawa yang merupakan mayoritas di Indonesia, sebab Indonesia dibawah manusia Jawa terus menerus menjadi manusia jajahan belaka, sebut saja penjajahan: Belanda, Portugis, Jepang, regim Orde Baru (sebagai boneka USA), dan saat ini: Arab/TimurTengah yang berkonspirasi dengan parpol/ormas/lsm berbasis Islam (melalui penjajahan kebudayaan dan politisasi agama), serta regim bablasan Orde Baru yang berkonspirasi dengan perusahaan internasional (plus pemerintah asing).
Prestasi Indonesia yang terusmenerus dibawah penjajahan asing kiranya akan merupakan record yang luar biasa (terlama dalam sejarah, barangkali) sehingga pantas masuk Guiness Book record (mirip dengan prestasi KKN nya yang selalu menjadi tiga besar dunia). Seolah-olah menjadi tak ada gunanya P. Jawa (atau bangsa kita) memiliki: ITB, UI, UGM, IPB, dst., sebagai sumber daya manusia (SDM) utama bangsa (karena para alumni PTN tersebut menguasai dan merajai pemerintahan dari menteri, eselon 1, staff, s/d pegawai biasa), karena mereka ternyata justru menjadi sumber krisis kecerdasan dan moral bangsa, mengingat bangsa Indonesia sampai dengan saat ini, pertengahan Mei 2006, masih saja mengalami krisis multidimensi. Semestinya PTN top tersebut menjadi benteng kebenaran, moral, kejujuran, kecerdasan dan kreativitas, bukan malah sebaliknya! Mudahnya para akademisi (dosen dan mahasiswa) ITB, UI, UGM, IPB, dst., ditipu, dibeli, diperalat dan dikerjain politisi busuk, militer/polisi preman, dan konglomerat hitam, sungguh sangat memprihatinkan.
Hingga kini, kami masih merasa dijajah asing yang berkonspirasi dengan para pejabat pusat di Jakarta (militer/polri, birokrat, poitisi, dan bussinesmen); kasus Freeport dan Exon serta hutang baru dari bank dunia/IMF adalah bukti nyata. Dengan hanya cukup menyuap 100 petinggi penting di Jakarta, perusahaan multi nasional atau negara asing sudah bagaikan memiliki Indonesia, rakyat setempat yang kaya raya akan natural resources bagaikan “ayam mati dilumbung padi”. Suku luar Jawa akan menganggap bahwa manusia Jawa adalah hanya sekedar pelaksana dari sistem kolusi/konspirasi destruktip antara: pemilik modal, negara asing, politisi busuk, oknum militer/polri, dan milisi. Apa yang disebut pembangunan luar Jawa oleh pejabat tinggi Jakarta, oleh manusia cerdas luar Jawa saat ini lebih diartikan sebagai: perampokan kekayaan alam, perusakan alam, pembodohan, sekaligus pemiskinan masyarakat setempat (luar Jawa). Tidak heran pabila: Aceh ingin merdeka, Riau ingin merdeka, Papua ingin merdeka, dan bahkan Bali pun ingin merdeka. Sebentar lagi, suku Dayak pun akan minta merdeka apabila mereka tambah cerdas (minimal dapat membandingkan betapa luar biasa makmur, aman dan sejahtera negara Brunei Darusalam yang hanya bagaikan satu titik saja dalam peta bumi Kalimantan!).
Dengan berbekal falsafah regim ORBA yang salah fatal (lihat bab II diatas), dan tidak berfungsinya PTN2 top di Jawa, serta gerilya kebudayaan asing, maka tidak heran bila manusia Jawa mengalami kemunduran kebudayaan yang signifikan (harap baca artikel lain berjudul: MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN? di:
http://agamarasional234.blogsource.com/ ). Dan mengingat suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran ini adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia.
Atas dasar berbagai alasan diatas, dapat dipastikan bahwa etnik Jawa yang diwakili birokrat hitam di Jakarta akan semakin terpuruk citranya, dan akan semakin tidak disukai bahkan dimusuhi oleh suku luar Jawa, misalnya: Aceh, Riau, Dayak, Papua, dan Bali. Tidak mengherankan apabila beberapa etnik luar Jawa yang semakin cerdas seperti: Aceh, Riau, Bali, Papua, dan Dayak, ingin mendapatkan otonomi khusus atau bahkan kemerdekaan demi masa depan mereka yang lebih baik dan demi melepaskan diri dari belenggu ketidak berdayaan/kelemahan etnik Jawa dalam hal kecerdasan, manajemen, kemunafikan, dan moral! Etnik keturunan Tionghoa, yang terus menerus dianak tirikan posisinya sebagai warga negara (melalui KTP dan SKBRI), akan merasa tidak senang kepada etnik Jawa juga.
IV. Musuh Utama Bangsa Saat Ini
Dapat mengindentifikasi masalah negara dengan tepat sudah merupakan 50% solusi masalah. Semenjak 1965 s/d detik ini (2006), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya! Indonesia yang kaya sumber alam, strategis posisi geopolitiknya, dan merupakan pasar yang besar bagi industri asing (karena jumlah penduduk > 200 juta) memang menarik untuk selalu diperebutkan, pumpung masyarakatnya masih terbelakang (gampang dibodohi)! Ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran ideologi antara USA dkk (kapitalis) vs. Rusia dkk. (komunis), yang menang USA; sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia. Regim militer dibawah Soeharto beserta USA dkk., sebagai pemenang, boleh dikata adalah kelompok yang paling menikmati kekayaan negara ini, dari gas alam di Aceh (LNG Arun) s/d Free Port di Irian - jadi semua kekayaan alam dari Sabang hingga Merauke, dan ini berlansung sejak 1965 s/d 1998 (32 tahun)!
Usaha regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan dari tekanan regim reformasi melalui politisasi agama Islam memang jitu sekali. Melalui politisasi agama Islam, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.) namun gagal, kemudian terlanjur dimasukan mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Regim Soeharto hingga kini memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia mulai sekitar 1995 sampai dengan saat ini adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2006), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya! Visi Bung Karno, yang non blok dan cinta budaya sendiri, seperti India dan RRC, negara yang mempunyai kepribadian sendiri dan mandiri, saat ini hanya tinggal kenangan... Indonesia sampai detik ini (Mei 2006) sekedar menjadi ajang pertempuran ideologi asing… Sungguh sayang sekali.
Atas dasar uraian diatas, maka musuh utama bangsa saat ini adalah:
- Negara modern yang sekedar ingin membodohi, menjajah ekonomi/teknologi dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia melalui berbagai forum politik internasional dan berbagai pinjaman yang menjerat dan bersyarat.
- Negara Timur Tengah yang juga ingin ingin mendapatkan devisa, membodohi, menjajah ekonomi dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia melalui politisasi agama Islam dan kebudayaan Arab. Bantuan dari Arab/Timur Tengah untuk pendidikan harus kita waspadai, jangan sampai menghasilkan “Mafia Berkeley versi Arab” dan meniadakan kebudayaan lokal.
- Generasi tua anggota regim Orba, yang usianya pada saat ini rata2 sudah diatas 60 tahun. Mengingat reformasi yang palsu, regim tua ini masih mengendalikan mesin politik di Indonesia. Visi dan misi generasi tua perusak bangsa, terutama para pelanggar HAM dan pelaku KKN kelas berat, adalah: 1) menyelamatkan diri atau bebas dari jerat hukum 2) tetap dihormati oleh masyarakat 3) kekayaan hasil rampokan tetap aman (diparkir di LN) 4) bila meninggal dapat dimakamkan di Taman Pahlawan. Jadi, seolah-olah mereka telah mengancam generasi muda dengan berkata:”Jangan berani mengungkit masa lampau kami dan hormati kami s/d kami meninggal. Tolong, jangan lupa, makamkan kami di makam pahlawan. Setelah kami meninggal silahkan buka borok2 kami dan luruskan sejarahmu (terutatama sejarah 1965). Dan jangan lupa membayar hutang tinggalan kami kepada luar negeri yang hampir 1/3 nya kami korup dan kami simpan di luar negeri untuk cucu-cicit kami s/d tujuh turunan! Kalau kami masih hidup, jangan sekali-kali berani “menyentuh” kami, atau negara ini akan kami obok2 sampai manusianya mabok. Hanya dengan bunga uang kami di bank2 luar negeri, kiranya sudah cukup untuk mengobok-obok Indonesia!” Salah satu jurus mengobok-obok bangsanya sendiri sekaligus untuk mengalihkan perhatian bangsa dari kasus mereka (pelanggaran HAM dan KKN kelas berat), misal dengan membuat kesibukan ekstra yang sangat menyita waktu, biaya, dan tenaga masyarakat, misalnya saja: RUU Anti Pornografi, adu domba dan pelarangan Ahmadiah, UU Perburuhan, UU Uji Emisi Kendaraan, UU Pelarangan merokok, Rencana Pembatasan Bensin, kenaikan harga BBM untuk kedua kalinya, penghapusan kolom agama pada KTP, UU Pers, dst. Obok2 bangsa ini tak akan berakhir, sebelum generasi tua yang bermasalah berat ini mampus! Dengan demikian, bangsa ini akan selalu terjebak pada lingkaran setan (viscious circle: menutupi kejahatan lama dengan kejahatan baru) akibat ulah generasi tua. Pada akhirnya, setelah semua energi, waktu, dan tenaga bangsa ini terserap dan teralihkan pada masalah2 yang sepele ini, pada umumnya hal2 tsb. lalu dimentahkan lagi, atau pemerintah dibuat menjadi dewa penolong dengan membatalkan RUU tsb., setelah itu dibuat issue baru lagi. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak pernah fokus pada masalah utama, dan pemerintah “dibuat” menjadi dapat pujian (membuat issue, kemudian mengatasi issue dengan cara membatalkan issue, dan berpura-pura sebagai dewa penolong). Inilah yang disebut politik issue: membuat issue, mengendapkan issue, menghilangkan issue dengan bertindak sebagai pemenang.
- Kebodohan bangsa kita sendiri akibat para cerdik-pandai yang enggan terjun ke politik. Penelitian Prof. John Anderson menyiratkan bahwa rata2 lulusan SMA terbaik memilih masuk di Fak. Kedokteran dan Fak. Teknik, namun sayangnya setelah menjadi dokter dan insinyur, para putra/putri bangsa yang tergolong terbaik ini enggan terjun ke partai politik. Dengan demikian ParPol di Indonesia dipenuhi oleh manusia yang berkualitas rendah, berijazah palsu, bermental preman, dan sekedar dapat membayar dana ke parpol (misal untuk Caleg jadi, bayar Rp. 100 juta). Bayangkan mereka inilah yang memimpin negara! Setelah menjadi petinggi di parpol, mereka lalu menjadi politisi busuk, kemudian membayar (hire) para cerdik pandai dari universitas untuk sekedar menjadi pembantu/staffnya. Dengan demikian, apa yang terjadi di Indonesia adalah paradoksial/keanehan: negara dipimpin oleh politisi dari kelompok golongan bodoh sekaligus preman; atau di Indonesia telah terjadi keanehan: yang bodoh dan preman memimpin yang cerdik-bijaksana dan baik, dengan demikian tidak heran Indonesia terus menerus mengalami krisis.
- Multi fungsi peran militer/polri: terutama dalam bisnis dan politik telah menjadikan bangsa Indonesia kalang kabut. Seandainya mereka ini digaji baik sekali dan mau kembali ke profesinya, maka diperkirakan 70% sakit bangsa Indonesia sudah terobati. Jadi, sakit utama bangsa ini terletak ketidak profesionalan militer/polri dalam menjalankan tugasnya karena perhatian, energi, tenaga dan waktu mereka lebih terserap ke bisnis dan politik praktis.
- Kebudayaan Jawa yang lemah dalam hal manajemen, beserta watak malas bekerja namun ingin cepat kaya, feodal, munafik, tidak satunya kata dan perbuatan. Sifat positip manusia Jawa adalah keramahan, kesenian yang indah, gotong royong dan suka sebagai perekat bangsa. Politisasi agama telah mengakibatkan manusia Jawa telah kehilangan pegangan akan kebenaran/keyakinan dan mengakibatkan murka Tuhan.
Akibat total dari ke enam pokok permasalahan bangsa diatas, maka Indonesia sampai kapanpun akan dilanda krisis multi dimensi dan tidak akan pernah mandiri dan menjadi bangsa yang maju.
Semestinya masyarakat, DPR dan Pemerintah mempunyai pandangan dan komitmen yang sama akan masalah bangsa Indonesia yang paling utama dan darurat yaitu:
1. Korupsi, kolusi dan nepotisme: misal membuat UU Perlindungan saksi/pelapor dan UU Pembuktian terbalik (yang kalau ditangani secara serius sebulanpun jadi).
2. Penegakan hukum: misal pembentukan KPK ditingkat propinsi.
3. Penyederhanaan tata niaga demi masuknya investor, untuk menanggulangi pengangguran dan kemiskinan
4. Ketidak adilan dan ketimpangan pembangunan daerah luar Jawa: perlu pemerataan uang dan sekaligus pemerataan SDM.
5. Menghilangkan ras diskriminasi antar SARA.
6. Reformasi birokrasi: mengingat ketimpangan, ketidak adilan dan kesemrawutan sistem gaji di Indonesia, sekaligus perbaikan gaji serta upah buruh yang sangat tidak manusiawi alias sangat rendah.
7. Penataan bisnis militer/polri yang sangat merusak tatanan ekonomi dan bisnis negara.
8. Dst.
V. Penutup
Karena sudah kenyang ditipu oleh para kosnpirator jahat, maka kita sebagai bangsa Indonesia hendaklah jangan buta politik, melain melek (literate) politik. Dan setelah memahami kepalsuan reformasi ini, marilah kita himpun semangat dan persatuan lagi untuk mengadakan reformasi yang sungguh-sungguh! Reformasi palsu berarti yang berkuasa saat ini adalah regim bablasan Orde Baru beserta konspirannya, maka tidaklah mengherankan kalau krisis ekonomi, moral, dan kebudayaan tetap berlangsung. Hendaknya jiwa berdikari dari Bung Karno serta kemajuan negara RRC dan India dapat mengilhami kita semua.
Akhir kata, mohon dukungan anda semua untuk meneruskan artikel ini ke segenap insan di Indonesia untuk dijadikan bahan diskusi dan renungan, untuk kemudian ditindak lanjuti. Setiap manusia Indonesia yang bijak dan cerdas dimohon untuk tidak tinggal diam berpangku tangan melihat bangsanya dililit oleh tiga musuh utama negara, cara berpartisipasi yang paling sederhana adalah menulis artikel di internet lewat news group atau membuat web blog sendiri yang gratis demi pendidikan politik bangsa (yang secara merata masih buta politik), lebih dalam lagi: ikut lsm/ngo, lebih jauh lagi ikut partai politik. Dan kepada manusia Jawa, semoga mereka mau berintrospeksi diri, harapan seluruh Indonesia ada dipundak mereka (sang mayoritas)!
Sumbangan dari:
Denpasar, pertengahan Mei 2006
LSM Merah Putih
Denpasar, Bali.